03

Jan
2017

Wujud syukur masyarakat adat Wologai dalam ritual Po’o

Posted By : adm-adat/ 265 0

Masyarakat adat tidak pernah lepas dari ritual, sebagai bentuk pernghormatan terhadap tradisi dari para leluhur dan berkah dari alam semesta. Masyarakat adat Wologai di Flores mengenal ritual Po’o yang menjadi tradisi tahunan masyarakat saat akan memulai kegiatan pertanian.

Po’o dalam bahasa keseharian daerah Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, dapat diartikan sebagai celengan untuk menabung yang terbuat dari ruas bambu. Po’o adalah media untuk memperingati tradisi kehidupan para leluhur, menyantap makanan dengan perabot makanannya yang terbuat dari ruas bambu.

Mulai dari Po,o Are (memasak nasi dengan menggunakan ruas bambu) sampai Po’o Uta (memasak sayur dengan menggunakan ruas bambu). Misalnya dalam Po’o Are, ruas bambu diisi dengan beras dan air kemudian dibakar hingga matang. Setelah matang langsung siap disajikan, dengan terlebih dahulu dibagikan secara merata kepada seluruh fai waku ana kalo (anggota masyarakat adat).

“Ritual Po,o adalah sesajian kepada leluhur agar kerja-kerja anggota komunitas dalam bertani dan bercocok tanam akan berhasil dan mendapatkan kekuatan untuk mengusir hama sawah,” kata Petrus Manggu seorang mosalaki atau tokoh adat Wologai.

Tradisi ini menjadi kekuatan roh tersendiri bagi masyarakat adat Wologai, dengan meminta pemberkatan dari leluhur yang telah memberikan jalan, petunjuk, serta penghasilan alam bagi kehidupan masyarakat.

Ritual Po’o juga menjadi momen saling bertukar informasi, cerita dan aturan-aturan adat, pengamanan tapal batas kebun, aturan hukum adat terkait dengan proses pengolahan lahan dan pengelolaan hasil produksi. Seperti pengelolahan hasil kerja kebun dan menyampaikan pola pembangunan yang ada di komunitas.

Selain urusan adat, tokoh adat atau mosalaki juga bisa menyampaikan himbauan untuk terus saling menjaga pengertian dan komunikasi sosial di antara masyarakat dalam ikatan hubungan tali persaudaraan.

Seorang tokoh adat lainnya Wilhelmus Weto bercerita, masyarakat adat Wologai dalam sejarah keberadaanya bisa dikatakan sebagai manusia yang hidup jauh sebelum Indonesia lahir. Namun masyarakat tetap menjaga kuat budayanya, mempertahankan sejarah dan keturunan, serta riwayat perjuangan leluhur dalam mempertahankan tanah.

“Melaksanakan adat tidak boleh main-main dan menganggapnya sebagai lelucon. Urusan adat adalah urusan yang berhubungan dengan jiwa dan hidup manusia di wilayah itu,” kata Wilhelmus.

Tanah Wologai adalah tanah sakral yang di dalamnya mengandung unsur mistik. Percaya atau tidak, ketika perbuatan manusia semena-mena dengan alam dan tanah adat, maka akan membahayakan jiwa manusia itu sendiri.

“Sering kali manusia dengan perkembangan teknologi mengabaikan hal-hal yang berhubungan dengan keutuhan ciptaan Tuhan dan para pendahulu. Di Wologai, warisan tanah saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang dan memakan korban yang cukup banyak,” lanjut Wilhemus.

Tanah adalah Ibu yang memberikan penghidupan seluruh umat manusia. Jika tanah itu tidak dijaga dan dirawat, sesunggunya manusia itu telah mencelakakan dirinya dan sesamanya. Itulah yang dipegung teguh oleh masyarakat adat Wologai.
Oleh: Yulius Fanus Mari