27

Jan
2017

Perjumpaan Pertama Dengan Orang Rimba

Posted By : Ali Syamsul/ 140 0

Hidup adalah perjalanan, maka tapakilah. Dunia ini luas, maka arungilah.

Hari itu, 3 November 2015, telepon berbunyi dari seorang kawan, “Apakah saya punya waktu untuk ikut pelatihan dokumentasi?” Saya menjawab, “Iya mudah-mudahan ada waktu untuk itu.” Namanya Sandi. Ia kemudian memberikan petunjuk untuk keikutsertaan saya dalam kegiatan tersebut. Syaratnya adalah saya harus menyerahkan tulisan tentang komunitas adat.

Saya pun mengikuti aktivitas yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) itu, di mana kemudian saya mendapatkan banyak pembelajaran sebagai bekal. Sebelum saya bergabung dalam pelatihan itu, saya terdorong untuk pulang kampung, kembali ke komunitas saya di Desa Tongko, Kecamatan Baroko.

Di sana saya menemui tokoh adat untuk menggali bahan tulisan sebagai bentuk kesungguhan saya untuk ikut dalam pelatihan dan live in di sebuah komunitas adat yang kelak akan ditentukan. Dengan tekat dan semangat, saya berhasil menyelesaikan empat halaman tulisan dalam waktu relatif singkat, sekitar dua jam.

Satu minggu lamanya pelatihan di Bogor bersama 15 pemudapemudi adat dari berbagai penjuru nusantara. Dari seluruh peserta pelatihan, panitia menugaskan enam orang untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat di tiga tempat. Sedangkan yang lainnya tetap menulis di komunitas masing-masing.

Saya bersama dengan seorang kawan bernama Katharina berkesempatan melakukan pendokumentasian di masyarakat adat suku Anak Rimba di Jambi. Sungguh menarik karena dengan pola penugasan seperti itu kami sama sekali belum tahu tentang masyarakat adat yang akan menjadi tempat live in, sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang komunitas itu bermunculan dalam pikiran.

Pada kesempatan itu, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan yang akrab kami sapa Bang Abdon, berkata, Jangan percaya dengan apa yang dikatakan orang, tapi lihat dan rasakanlah sendiri! Kalimat yang terus terngiang di benak saya.

Sebelum keberangkatan, saya rajin mencari informasi tentang suku Anak Rimba dari orang-orang. Dengan cerita-cerita awal yang saya dapat, keingintahuan yang begitu besar muncul dan mendorong rasa penasaran serta semangat baru untuk melihat dan merasakan langsung seperti apa dan bagaimana berinteraksi dengan mereka.

Penerbangan ke Jambi hanya memakan waktu satu jam. Dari Bandara Sultan Thaha, kami diantar oleh Dini menuju ke rumah pengurus wilayah AMAN Jambi Datuk Usman Gumanti. Di rumahnya juga hadir Bang Heru selaku Ketua BPAN Jambi. Persinggahan yang tidak begitu lama di rumah Datuk Usman, saya manfaatkan untuk mendapatkan informasi lagi mengenai suku Anak Rimba. Datuk banyak menyebut nama-nama Orang Rimba yang menjadi karibnya.

Keesokan paginya, saya bersama dengan Bang Heru Pau menuju Kabupaten Sarolangun. Persis tengah hari kami sampai di Pau, tak langsung ke lokasi tempat suku Anak Rimba. Kami beristrahat sejenak di rumah Dini karena dia menjanjikan akan menyuguhkan makanan khas Jambi, tempoyak. Terbuat dari durian yang diasamkan lalu dicampur dengan daging ikan patin.

Jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ujung Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Sesampai di Simpang Pau, kami melanjutkan perjalanan dengan ojek ke Air Hitam selama dua jam. Sesampainya di lokasi kami sudah ditunggu oleh Jenang di depan kantor Dinas Kehutanan. Menurutnya setiap orang yang ingin masuk ke wilayah pengembaraan Suku Anak Rimba – sekarang menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas harus minta izin kepada pihak Dinas Kehutanan.

Jenang meminta kepada anak muda yang bersamanya menjemput kami agar ke aula pertemuan. Sebuah bangunan gedung sebagaimana layaknya aula pada umumnya. Namun ceritanya sangat berbeda jika itu adalah aula milik Orang Rimba yang beratap dan tidak berdinding. Lantainya penuh dengan lumpur yang telah mengering dengan debu dan dedaunan yang juga kering.

Kalian istrahat dan tidur dulu di sini karena malam ini tidak bisa masuk hutan,” ujar Jenang.

Saya sungguh kaget dan ingin menangis. Tikar tidak ada, lantai tanah, gelap gulita, nyamuk pun banyak. Kembali saya berpikir kalau di tempat ini kita harus istrahat dan tidur dengan kondisi yang begitu buruk, lalu bagaimana nantinya jika sudah berada dalam hutan. Untunglah anak muda yang mengantar kami mencarikan tikar pinjaman untuk dijadikan alas tidur malam itu.

Jumat, 27 November 2015, tepatnya jam setengah dua malam, kami diantar Tumenggung Betaring masuk Hutan. Satu jam lebih kami berjalan kaki menyusuri hutan hingga tiba di tempat kelompok Tumenggung membuat rumah untuk tempat tinggal sementara. Mereka menyebut rumah dengan detano.

Empat hari saya jalani hidup dalam hutan bersama Tumenggung. Setiap malam saya manfaatkan waktu untuk diskusi dengannya mengenai kehidupan mereka, tentang sejarah asal-usul, tata kelola wilayah, aturan hidup, perekonomian, serta berbagai ritual. Siang harinya kami lalui dengan aktifitas berjalan menyusuri hutan dan berjumpa dengan kelompok Orang Rimba lain, sambil bercerita tentang bagaimana mereka menjalin hubungan tak terpisahkan dengan hutan dan alam.

Selama tinggal di sana, menyusuri hutan dan bertemu dengan Orang Rimba, saya menyaksikan sendiri aktivitas kehidupan mereka. Berburu, meramu, dan mengumpulkan hasil hutan. Mereka meletakkan hasil pekerjaan mereka itu di pinggir jalan begitu saja. Tidak ada yang hilang atau rusak.

Ini menegaskan bagaimana mereka memegang teguh nilai-nilai adat dan menerapkannya dalam kehidupan untuk menjaga interaksi sosial tetap kuat. Aturan adat yang menjunjung tinggi nilai moral, seperti kejujuran dan kepercayaan, yang telah menjadi panduan kehidupan mereka sehari-hari.

Manusia tidak akan mengerti arti kenyamanan jika tidak pernah merasakan kesusahan. Dengan mencicipi kehidupan rimba, afirmasi dari kalimat yang sempat dilontarkan Bang Abdon itu semakin terasa dan punya makna.

Saya menyadari kedewasaan ditempa bukan karena bebasnya kita dari persoalan hidup, tetapi dari banyaknya persoalan yang kita hadapi. Kehidupan yang saya nikmati sesaat di alam bebas Hutan Bukit Duabelas sudah pasti berbeda.

Ketika saya berada dalam pergaulan masyarakat umum yang relatif modern dan mapan dengan segala hal yang gemerlap, kemudian ada yang berubah saat saya merasakan kehidupan yang berbeda dengan tidur di hutan. Tidur bernaung tenda tanpa dinding yang menahan dinginnya angin malam. Rajin mendonorkan darah untuk nyamuk.

Pada perjalanan ini saya menjalin persahabatan dengan sesama dan alam. Saya mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan untuk belajar dan memperkaya makna kehidupan. Sebuah refleksi yang hadir tentang kehidupan di dalam rimba.

Oleh Ali Syamsul