40% Sekolah Buka PTM Terbatas, Nadiem Makarim : Angkanya Masih Kecil

  • Bagikan
40% Sekolah Buka PTM Terbatas, Nadiem Makarim : Angkanya Masih Kecil

NUSANTARAKITA.ID –  Nadiem Makarim Mentri Pendidikan Budaya Reset Dan teknologi (Kemendikbudristek), melakukan peninjauan kebeberapa daerah untuk memantau Pembelajaran Tatap Muka (PTM), hingga sampai saat ini masih ada sekitar 40% sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) Terbatas.

Nadiem Makarim memaparkan, ada 40% sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, namun menurutnya angka itu masih kecil.

“alhamdulillah sudah ada 40% sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) tapi itu masih angka yang kecil, namum jika tidak mau semakin tertinggal, ya anak-anak harus TPM dengan protokol kesehatan yang ketat di setiap masing-masing daerah” ungkap Nadiem.

Nadiem juga menyampaikan selama 8 bulan dia memantau dan meminta daerah agar segera melakukan sekolah Pembelajaran Tatap Muka (PTM), dia kadang suka marah terhadap daerah yang masih melakukan Pembelajaran Jarak Jauh sedangkan daerah itu tidak memiliki internet.

”pada saat ini saya sudah 8 bulan terus banting – banting meja, pergi keberbagai macam  daerah untuk meminta sekolah segera melaksanakan PTM. Saya suka marah dengan berbagai daerah yang tidak memiliki internet dan melakukan pembelajaran Jarak jauh dan banyak yang berahir tidak sekolah”, ujarnya di You Tube dalam acara bangkit Bareng.

Baca Juga : Akademisi Pertanyakan Independensi KPID Jawa Timur

Pak Mentri tersebut menegaskan terhadap sekolah yang masih melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar segera membuka sekolah tatap muka, karena hal tersebut sudah diatur oleh SKB 4 mentri.

“semua peraturan dan SOP sudah jelas , tinggal ikut saja di SKB 4 mentrinya. Tidak zaman lagi menutup sekolah, kecuali ada kemungkinan penularan, tapi saat ini kemungkinan sangat kecil”, ujar Nadim.

Kemendikbudristek  dalam kesempatan itu junga menyampaikan bahwa sektor pendidikan di Negara kita masih masih jauh tertinggal dengan negara negara lain.

”mengetahui ketertinggalan sampai mana, jika UN sudah dihilangkan diganti Asesmen Nasional (AN) untuk mengukur literasi, numerasi dan pendidkan karakter. AN juga mematangkan ketertinggalan dan untuk mengukur ketertinggalan”, imbuhnya.

Dengan perubahan belajar mengajar dimasa pandemi, Nadim memberikan opsi untuk mengunakan kurikulum darurat.

“kita memberikan opsi kepada sekolah untuk mengunakan kurikulum darurat, jadi secara spesifik tidak lebih ketinggalan. Teryata 36% sekolah sekolah mengunakan kurikulum ini”, ucapanya Nadiem.

Nadiem menyakini melalui riset menunjukkan secara signifikan penggunaan kurikulum darurat lebih kecil dalam ketertinggalan.

Bayak upaya yang dilakukan oleh Mentri Pendidikan Budaya Reset Dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga nantinya akan mencetak generasi bangsa dan akan menjadi penurus masa depan.

 

 

 

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *