Berpuasa tapi meninggalkan shalat, begini menurut para ulama’

BERPUASA TAPI MENINGGALKAN SHALAT, BEGINI MENURUT PARA ULAMA
BERPUASA TAPI MENINGGALKAN SHALAT, BEGINI MENURUT PARA ULAMA

NUSANTARAKITA.ID – Barangsiapa berpuasa tapi meninggalkan shalat, berarti ia meninggalkan rukun terpenting dari rukun-rukun Islam setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, diatasnyalah agama tegak. Dan orang yang meninggalkan shalat  dan mengingkarinya hukumnya adalah kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya.

Dalam sebuah hadist dikatakan, “antara hamba (mukmin) dan kafir ialah meninggalkan shalat,” (HR Ibnu Majah). Maksudnya, meninggalkan shalat dapat menjadi perantara seorang untuk menjadi kafir.

Hadis diatas menunjukan betapa pentingnya mengerjakan sholat. Terlebih lagi, terdapat ijma’ ulama atau kesepakatan ulama bahwa shalat termasuk kewajiban yang tidak bias ditawar lagi. Siapapun yang sudah memenuhi persyaratan, mesti mengerjakannya dalam keadaan apapun dan sesulit apapun. Bahkan  dalam kitab Safinatun najah karya Syaikh Salim Ibn Sumair Al-Hadromai menyebutkan bahwa uzur shalat hanya ada dua yaitu tidur dan lupa.

Baca Juga : Pemerintah akan berikan bantuan subsidi upah bagi pekerja dengan gaji dibawah Rp. 3 Juta

Kemudian, bagaimana hukumnya mengerjakan puasa, tetapi tidak mengerjakan shalat? Apakah puasanya dianggap sah mengingat shalat adalah amalan yang pokok?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus merinci terlebih dahulu atau bertanya kepada orang yang tidak shalat tersebut, kira-kira apa alasannya meninggalkan shalat. Apakah karena mengingkari kewajibannya ataukah karena malas. Sebab keduanya mempunyai implikasi hokum yang berbeda-beda.

Hasan Bin Ahmad al-Kaf dalam kitabnya Taqriratus Sadidah fi Masail Mufidah menjelaskan :

“Ada dua kondisi orang yang meninggalkan shalat, meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya dan meninggalkan shalat karena malas. Orang yang masuk dalam kategori yang pertama, maka ia dihukumi murtad. Sementara yang kaegori kedua masih dikatakan muslim”.

Berdasarkan pendapat ini, orang yang tidak mengerjakan shalat karena mengingkari kewajibannya, puasanya batal secara otomatis. Sebab dia sudah dianggap murtad dan keluar dari Islam termasuk hal yang dapat membatalkan puasa. Sementara orang yang meninggalkan shalat karena malas atau sibuk, statusnya masih muslim dan puasanya tidak batal secara esensial. Namun puasanya tidak bernilai apa apa dan pahalanya berkurang.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.