Mengenal Empedokles Dan Pluralisme Cinta Dan Benci

  • Bagikan

NusantaraKita.id – Empedokles merupakan filsuf Yanani kuno yang diperkirakan lahir pada 490-430 sebelum masehi, Empedokles tinggal di kota Akragasi pulau sisilia. Dia terlahir dari keluarga yang sangat berpengarus di kotanya dalam sejarah pernah empedokles pernah diminta menjadi raja namu dia menolak untuk menjadi raja pada waktu itu.

Dengan keadaan politik yang bergejolak membuat rakyat di kotanya tidak setabil, empedokles memutuskan pergi dari tanah kelahirannya tersebut untuk berkelana dari  kota satu dengan yang lain. Dalam mencari kedamain untuk jiwanya.

Orfisisme aliran mistis yang dibawa pytagoras yang digunakan empedokles dalam mendamain kan jiwanya yang dia anggap bahwa manusia diturunkan kebumi untuk menyucikan dirinya agar ketida menghadap tuhan dirinya suci kembali. Maka melalui aliran ofisisme tersebut menurut empedokles manusia akan menemukan kesuciannya kembali.

Dia menganut mazhab pluralism/kebergaman, menurut kepercayaan dia penting kita menerima keberagaman tidak perlu mempermasalah kan  suatu keberagaman karena dengan keberagaman akan memunculkan kekuatan cinta yang akan mempersatukan.

Seperti yang empedokles yang menenjadikan empat pandaangan filsuf yang bertententangan bada zamannya beliu jadikan satu empa pandangan yang lebih dikenal enga istilah anasir.

  1. Air pandangan Thales,
  2. Tanah pandangan Anaximandros
  3. Api pandangan Herakleitos
  4. Udara pandangan Anaximenes

Empat anasir yang sebelumnya sangat bertentangan dengan satu yang lainnya mengaku paling benar, namun menuru  pandangan empedokles bahwa empat empatnya adala asal muasal dari segala sesuatu yang pasti kita jumpai didalam dunia  ini ataupun didaerah kita masing masing.i

Dari empat anasir tersebur menurut empedokles memiliki kuantitas yang berbeda missal tanah tidak akan pernah menjadi air, akan tetapi yang ada didalam dunia itu terdiri dari ke empat tersebut.

  • Cinta dan benci

Empedokles mengungkapkan bahwa cinta dan benci itu bukan sebuah perasaan belakang melainkan tubuh, maski dia tubuh bentunya sangat halus sehingga manusia mampu melihat hanya mampu untuk merasakan keduanya.

Pandangan Fisuf Yunani kuno tersebut bahwa tercampurnya dari ke empat anasir tersebut karena kodrat cinta yang menyatukan ke empatnya memjadi satu dan tidak akan terpisah satu dengan yang lainya, akan tetapi kemudian yang namanya benci yang membawa perpisahan dan dari ke empat anasir tersebut tidak akan menyatu lagi ke empatnya berdiri sendiri sendiri, kecuali dating kembali mahluk yang tak dapat kita lihat dapat dirasakan keindahannya yaitu cinta yang dapat menyatukan segalannya yang berbeda.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *