Peningkatan kemampuan mengenal lambang bilangan melalui media bermain kartu angka bergambar pada anak usia dini usia 4-5 tahun

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI MEDIA BERMAIN KARTU ANGKA BERGAMBAR PADA ANAK USIA DINI USIA 4-5 TAHUN
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI MEDIA BERMAIN KARTU ANGKA BERGAMBAR PADA ANAK USIA DINI USIA 4-5 TAHUN

NUSANTARAKITA.ID – Usia dini merupakan masa keemasan (the golden age) namun sekaligus periode yang sangat kritis dalam tahap perkembangan manusia. Hasil penelitian yang dilaku- kan Benjamin S. Bloom, Professor of Education in University of Chicago, dalam Juknis Penyelenggaraan kelompok Bermain (2012:1) mengungkapkan bahwa pada usia 4 tahun 50% dari kapabilitas kecerdasan seorang anak telah terbentuk, pada usia 8 tahun telah mencapai 80% dan pada usia 18 tahun, inteligensia dewasa seorang anak telah komplit terbentuk. Dengan demikian, masa usia dini merupakan masa peletak dasar atau pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Artinya masa kanak-kanak yang bahagia merupakan dasar bagi keberhasilan dimasa datang dan sebaliknya. Untuk itu, agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal, maka dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif pada saat mem- berikan stimulasi dan upaya-upaya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan yang lainnya karena anak merupakan pribadi yang unik.

 

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI MEDIA BERMAIN KARTU ANGKA BERGAMBAR PADA ANAK USIA DINI USIA 4-5 TAHUN
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN MELALUI MEDIA BERMAIN KARTU ANGKA BERGAMBAR PADA ANAK USIA DINI USIA 4-5 TAHUN

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah aspek pertumbuhan dan perkembangan antara lain: (1) Nilai-Nilai Agama dan Moral, (2) Fisik Motorik,

(3) Kognitif, (4) Bahasa, (5) Sosial Emosional, (6) Seni. Aspek perkembangan yang perlu mendapatkan rangsangan dan perhatian khusus adalah aspek perkembangan kognitif. Menurut Pedoman Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah (2013: 1) bahwa perkembangan kognitif seringkali diartikan sebagai perkembangan kecerdasan, daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual. Faktor kognitif sangat penting untuk keberhasilan anak dalam belajar, karena sebagian besar aktivitas dalam belajar menggunakan berpikir.

Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pasal 1, butir 14, menerangkan bahwa PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sam- pai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa

(1) PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) PAUD diseleng- garakan melalui jalur formal, non formal, dan/atau informal, (3) PAUD jalur formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. (4) Pada jalur nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pada jalur informal ber- bentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.Karena begitu pentingnya pendidikan, agama dan pemerintah memberikan perhatian khusus pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Pembelajaran kognitif pada Anak Usia Dini dilakukan dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Karena dunia anak adalah bermain maka pembelajaran di PAUD menerapkan prinsip bermain sambil belajar dan belajar melalui bermain, namun masih banyak orang tua menganggap bahwa pembelajaran di PAUD hanya bermain tanpa tujuan yang jelas, padahal pembelajaran di PAUD didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak belajar dengan tetap mencerminkan jiwa bermain, yaitu senang, bebas, merdeka. Oleh karena itu, kegiatan bermain di PAUD mampu mengembangkan semua aspek perkembangan anak.

Menurut Sugiyanto (2013: 5) menjelaskan bahwa kemampuan kognitif diarah- kan agar anak mampu mengembangkan daya persepsinya berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, sehingga anak akan memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif.Pengembangan kemampuan di PAUD diarahkan agar anak mampu menyelesaikan masalah pada kehidupan sehari-hari, mengembangkan daya cipta dan mengenal kondisi yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Permainan di PAUD banyak ragam dan jenisnya, setiap permainan harus ma- mpu mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar alamiahnya atau menurut Howard Gardner disebut multiple inteligences atau kecerdasan majemuk, yang mana awalnya hanya ada tujuh kecerdasan namun sekarang sudah berkembang menjadi sembilan kecerdasan meliputi linguistik (kecerdasan verbal atau berbicara), musikal (kecerdasan musik), visual spasial (kemampuan melihat gambar), kinestetik (kecer- dasan olah tubuh), matematislogis (kecerdasan mengolah angka), interpersonal (ke- cerdasan bersosialisasi), intrapersonal (kecerdasan memahami diri sendiri), naturalis (kecerdasan mengenal flora dan fauna), dan yang terakhir eksistensialis (kecerdasan menjawab keberadaan manusia).

Kecerdasan matematis merupakan jenis pengetahuan yang dibutuhkan manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Permainan matematika berhubungan dengan persamaan dan perbedaan, pengaturan informasi atau data, memahami ten- tang angka,jumlah, pola-pola, ruang, bentuk, perkiraan dan perbandingan. Untuk mengenalkan konsep angka pada anak usia dini dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu: (1) membilang, menyebutkan bilangan berdasarkan urutan, (2) mencocokan setiap angka dengan benda yang sedang dihitung, (3) membandingkan antara kelom- pok benda satu dengan kelompok benda yang lain untuk mengetahui jumlah benda yang lebih banyak, lebih sedikit, atau sama.

Menurut Muhammad Alwi (2014: 124) bahwa ciri orang dengan kecerdasan matematis, ia senang bekerja dengan data, mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis serta menginterpretasikan, menyimpulkan kemudian meramalkan. Ke- cerdasan matematis sering dipandang dan dihargai lebih tinggi dari jenis-jenis kecer- dasan lainnya, khususnya dalam masyarakat teknologi dewasa ini, kecerdasan ini mempunyai ciri sebagai kegiatan otak kiri walaupun tidak seratus persen.

Untuk dapat mengenal konsep dan lambang bilangan dengan baik dan benar anak dapat menggunakan media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunkan yaitu kartu angka bergambar. Media kartu angka bergambar adalah suatu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang melibatkan anak secara langsung dalam pembelajaran dimana media tersebut diharapkan agar anak lebih aktif dalam pembelajaran. Media ini mudah digunakan dan sangat mudah dalam pembuatannya.

Cara menggunakan media:

  1. Guru atau orang tua menunjuk angka yang ada di kartu angka bergambar tersebut.
  2. Guru atau orang tua memberi contoh cara menggunakannya dengan cara mencocokkan  lambang bilangan dengan jumlah gambar yang
  3. Anak mempraktekkan satu persatu secara

Alat dan bahan:

  1. Kardus bekas
  2. Kertas manila
  3. Lem tembak
  4. Gunting
  5. Spidol
  6. Penggaris

Cara mebuat:

  1. Kardus bekas di buat lembaran dan bersihkan
  2. Buatlah ukuran 4 cm x 6 cm dan di potong pada kerdus , sebanyak 10 lembar
  3. Buatlah ukuran 4 cm x 6 cm dan di potongpada kertas manila , sebanyak 10 lembar
  4. Buatlah angka 0 sampai 10 dengan spidol
  5. Buatlah gambar dengan jumlah sebanyak angka yang sudah di tulis pada kartu angka di kertas manila
  6. Tempelkan kartu angka kertas manila pada kardus yang sudah di ukur sama dengan lem tembak
  7. Kartu angka bergambar siap digunakan
  8. Demikian cara membuat kartu dan permainan sederhana dalam mengenal angka. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal bentuk, warna, angka dan melatih daya ingat, serta keterampilan motorik anak jika mereka diajak membuat bersama-sama kartu angka tersebut.

Tujuan penggunaan media papan pintar ini pada anak usia dini adalah untuk menstimulasi kemampuan kognitif anak khususnya pada kemampuan konsep dan lambang bilangan sebagai kemampuan matematika dasar. Anak menemukan lambang bilangan yang di sebutkan kemudian mencocokkan sesuai dengan jumlah gambar. Selain itu dapat menstimulasi perkembangan sosial emosional anak, anak dapat belajar bersabar menunggu giliran bermain dan untuk mengenal bentuk, warna, angka dan melatih daya ingat, serta keterampilan motorik anak jika mereka diajak membuat bersama-sama kartu angka tersebut.Pendidik dan orang tua dapat membuat dan mempraktikkan langsung dengan mudah. Terimakasih semoga bermanfaat.

Penulis: Ika Dewi Indrawati, S.Pd Guru TK Kemala Bhayangkari 12 Gondanglegi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *