My trip to Komodo island

Posted By : Alfa Gumilang/ 232 0

One of my unforgettable vacation was when I went to Labuan Bajo. All six days full of exploration and every places I stopped always gave sensation. How about this one? I got all my body bumps and itchy after snorkeling in Kanawa beach.

One of my unforgettable vacation was when I went to Labuan Bajo. All six days full of exploration and every places I stopped always gave sensation. How about this one? I got all my body bumps and itchy after snorkeling in Kanawa beach.

Google said that’s because the defense system of coral and marine biota against stranger. I didn’t do anything harm as I remember, but that’s ok because at least I have this experience to tell every time people ask about those bumps. about

We were six people join an open trip. Some are my friends and others I just know when we met on the first day. So that afternoon was the time to know each other.

We started early morning on second day. Until that day I just knew Komodo island, the one famous around the world. But Jeffar our guide, didn’t take us directly to that island. First we hop on Padar island, relaxing on the beach and hike up a hill. It was very hot that day.

Foto bersama saat menuju bukit di pulau Kelor.
On the way to the hill, Padar island (photo: alfa gumilang) 

At a moment I was in doubt to go hiking. The sun seems very close to us and there’s only one tree on top of the hill. But hey… we already here, shut up and go! Hahaha. One friend could not continue hiking. I fought the hot weather, tired and thirsty, wondering what view would I get on top.

I took deep inhale when I reach the top. Stunning view! And I suddenly realized this is the amazing view I see spread out on instagram. Well, everyone took their camera or mobile phone and started clik! clik! clik!

Pemandangan di atas bukit di pulau Kelor.
View from top of Padar island (photo: alfa gumilang)

I wish there’s a cottage or resort up here, then spend a night would be perfect. (About a year after my trip I read that there was a plan to build resort here, and lot of rejection show up worrying the environmental damage. I feel very sorry then 🙂 )

Pink Beach was our next destination. Without too much talking, we jumped into the water. So fresh! Beautiful corals and little fishes really spoiled our time of snorkeling. We took lunch on the beach. Jeffar the guide remind us not to bring the pinky sand. A nice guide with full concern of environment, and of course sustainable tourism.

Pink Beach di kepulauan Komodo.
Pink Beach (photo: alfa gumilang)

Almost dark that day, we docked to an island. I sat on the edge of the boat starring mangroves in front of me. Dozen of boats also there. It was almost dusk when suddenly hundreds of bats flew around us to the mangroves. What a superb moment before finish the day.

Jeffar asked us to stay at his house in Komodo island. He is a resident of that island. So we all stay at his living room. “Don’t you scare with the Komodo? What if they come to this village?” we all asked him the same question while enjoying our dinner.

He just smiled. This is definitely a question that has been asked thousands of times. “We already live here from hundred years ago, from my great great grandfather. We are just get used to it. Komodo already being part of our life”, he said.

He continued that local people sometimes give offerings to the dragon. Chicken, flowers, even cigarettes. For them, komodo is not just animal, but their ancestors whi live together with them.

10 o’clock electricity shut down. Well in this island, power not running 24 hours. That gave us sign of course to get rest. Tomorrow we are going to see the pre-historic lizard. Beberapa wisawatan saat sedang mengambil gambar komodo.

Couple of tourists took picture of Komodo (photo: alfa gumilang)

The next morning we were ready to see Komodo. Jeffar joined us. Normally one group of visitor should be accompany by one ranger. But at the entry gate, a ranger who know each other with Jeffar, said that we will be just fine only with Jeffar. He took a big twigs and lead us the way.

First he asked us if nobody had menstruation because Komodo can smell blood and that could attract them to come close to us. “Do not make sudden moves or swinging your bag”, he warned us.

It was like a scene on horror movie when we entered the forest area. Rocky paths, shade trees and vines on our left and right. It was quiet and rather dark. The sound of crows snapping really brought the atmosphere. Then in an open field, two dragons appeared, drinking water from a puddle.

There’s another group of visitor with their guide explaining something. We were just busy taking pictures. After thirty minutes we walked again to other areas of the island. Along the way, we saw some dragons ran fast.

After a while in Komodo island we have to get back on the boat. We sailed to an area of manta ray. Of course you can swim and snorkeling to see them. Next destination was Kanawa island. We spent night there. Jeffar offered us local wine called sopi, and that night was full of laughs.

Kanawa island is one of a good spot for snorkeling. We did that before leaving to Labuan Bajo, and here where I got my bumps. We docked at Labuan Bajo at afternoon, say goodbye and thank you to Jeffar. We spent our two days in Labuan Bajo. We went to Cunca Rami waterfall, cermin cave and Liang Bua.

Foto Pak Jefar, guide kami selama mengarungi kepulauan Komodo.
Jeffar, our guide. (photo: alfa gumilang)

People said that travelling relieve stress. Yes, if you know where you want to go and what you want to do. Of course sometimes you’ll get surprise, that’s what makes your trip more experiential. I am just not sure if my bumps are the best experience for me. Hahaha.

By: Alfa Gumilang

Legenda Air Terjun Cunca Rami, Flores

Posted By : Ronny Hendra/ 195 0

Di Flores bagian barat, jauh di sebuah desa, ada dongeng tentang pemuda tampan yang berubah wujud dari seekor udang. Pertemuan seorang gadis kampung dengan pemuda itu, menjadi cerita di balik keindahan Air Tejun Cunca Rami, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.

Dari Kota Labuan Bajo menuju ke air terjun Cunca Rami ditempuh dengan naik mobil sekitar 2 jam. Air terjun ini ada di Desa Golondaring. Jam pertama mobiil melaju tenang di aspal mulus jalan provinsi itu. Jam kedua berubah drastis. Mulai dari sebuah pertigaan ke arah desa ini, jalan menurun berbatu dan berlubang. Kiri-kanan hijau hutan, hingga kami tiba di desa Waelolos, yang bisa dikatakan sebagai pintu masuk ke air terjun.

Gambar wisatawan yang sedang tracking menuju lokasi air terjun Cunca Rami.
Gambar wisatawan yang sedang tracking menuju lokasi air terjun Cunca Rami.

Sudah ada beberapa pemuda yang akan memandu pengunjung ke air terjun Cunca Rami. Menuju ke air terjun itu harus bejalan kaki lagi sekitar setengah jam, dengan tracking yang cukup menantang. Sempit, menurun, masuk ke area hutan. Lepas dari track menurun tersebut, kita akan bertemu dengan persawahan, sungai, dan akhirnya tiba di air terjun ini. Saat itu sepi, hanya rombongan kami saja, dan sepasang bule.

Ada satu rumah di dekat air terjun itu, ditinggali oleh seorang wanitu tua bernama Maria Minu. Wanita ini berasal dari Kampung Lamo, di bukit Mbeliling.

Cerita Legenda Cunca Rami
Mata air sumber air terjun Cunca Rami adalah tempat bertemu seorang gadis kampung dengan pemuda yang kelak menjadi suaminya. Gadis itu yang sedang mencuci rambut dengan sabut kelapa, melihat seekor udang di mata air tersebut. Ketika dia mau mengambil udang itu, si gadis terjatuh, dan seketika udang itu berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan yang menyambut tangan sang gadis.

Pemuda itu berterimakasih sambil berkata, “Tinggallah di sini, ini rumah kita sekarang.”

Seharian tidak pulang ke rumah, orangtua si gadis sibuk mencarinya, dibantu oleh warga Kampung Lamo, tempat tinggal gadis itu. Semalaman mereka mencari namun tidak menemukan. Sampai suatu hari, bapak si gadis bertemu dengan seorang pemuda yang tak dia kenal, tak pernah dia jumpai di kampung-kampung sekitar tempat tinggalnya.

“Bapa cari siapa?” tanya si pemuda.
“Saya cari anak gadis saya.”
“Tidak usah Bapa cari lagi anak itu. Dia sudah tinggal di rumah saya.”

Si bapak kebingungan karena dia tidak melihat rumah di sekitar itu, hanya hutan dan kolam mata air tadi.

“Kalau bapa mau bertemu anak bapa, pejamkan mata sebentar, lalu buka lagi,” kata si pemuda itu.

Bapak itu mengikutinya, dan begitu dia membuka mata, kagetlah dia karena sudah berada di sebuah rumah mewah dan indah. Dan anak gadisnya ada di sana menyambut dia. Diajak anak gadis itu pulang, tapi si anak tidak mau.

“Bapa, ini rumah saya sekarang. Dia suami saya,” kata si anak sambil menunjuk pemuda tadi.

Bapak itu berkata ke si pemuda, kalau memang ingin mengambil anaknya maka mereka harus menikah. Secara adat, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai mas kawinnya. Si pemuda setuju, dan disepakati dalam 7 hari ke depan si pemuda akan membawa keluarganya, dan anak gadis istrinya itu, ke Kampung Lamo. Beserta juga akan dibawa kerbau, keping uang, dan sebagainya sebagai syarat mas kawin.

Sebelum kembali ke kampungnya, si bapak mengajukan satu syarat lagi, “Buatkan satu compang (tugu) untuk nanti mengikat kerbau-kerbau yang kamu bawa. Compang itu harus kau bangun dalam satu malam, persis di depan kampung kami.”

Setelah mendapat jawaban kesediaan dari si pemuda itu, si bapak kembali ke kampungnya dan menceritakan semua itu ke warga kampung. Si Bapak tetap merasa tidak rela menikahkan anaknya dengan pemuda yang ia tidak tahu berasal dari mana. Warga kampung juga merasa demikian. Bersiasatlah mereka, supaya bagaimana caranya si anak gadis bisa kembali ke rumah dan pernikahan dibatalkan.

Warga menyiapkan satu rumah dengan satu kamar khusus, yang nantinya akan disediakan untuk si gadis ketika tiba di kampung. Rencananya, kamar itu akan dikunci dan tidak akan bisa dibuka oleh siapapun, sehingga si gadis tidak akan bisa keluar lagi. Warga juga menyiapkan anjing-anjing terbaik untuk mengusir keluarga si pemuda tadi, juga untuk menghabisi kerbau-kerbau yang nanti dibawa.

Malam ke-6 setelah itu, warga kampung kaget karena berdiri sebuah tugu di depan kampung mereka. Itulah tugu yang menjadi salah satu syarat. Dibangun hanya dalam satu malam, tanpa diketahui oleh warga kampung. Tugu itu adalah bongkahan batu-batu besar yang ditumpuk, yang tidak akan mungkin dikerjakan oleh manusia biasa hanya dalam waktu singkat.

Tibalah hari ke-7, hari yang dinantikan. Rombongan tiba, beserta ratusan ekor kerbau yang mereka bawa, melebih jumlah yang disyaratkan. Keluarga pemuda itu juga membawa ratusan keping uang. Mereka disambut oleh warga dan digelar pesta. Malam harinya, si anak gadis dibawa ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dikuncinya kamar itu. Sementara satu per satu orang sudah tidur, begitu juga pemuda tadi dan keluarganya.

Tengah malam, warga melepas anjing-anjing untuk menyerbu cunca-rami2keluarga si pemuda dan mengusir mereka. Namun ajaib, anjing-anjing yang menyerbu ke compang atau tugu tempat mengikat kerbau, hanya mendapati ratusan kerbau itu telah berubah menjadi babi hitam kecil. Ratusan keping uang berubah menjadi ranting-ranting kayu. Si pemuda dan keluarganya tidak ada di tempat istirahat mereka, menghilang. Dan ketika warga mengecek kamar si gadis, ternyata anak gadis itu sudah tidak ada.

Sang Bapak bersama warga kampung mencari rombongan keluarga pemuda itu, hingga tiba di kolam mata air tempat awal mula semua ini terjadi. Bapak si gadis mencoba memejamkan mata, namun tidak terjadi apa-apa. Marahlah mereka semua. Seketika datang air bah dan menyapu semua orang kampung yang ada di sekitar mata air itu. Tewaslah mereka. Aliran mata air itu bermuara pada sebuah air terjun, yaitu air terjun Cunca Rami. Dan arwah warga kampung yang tersapu air bah diyakini sebagai arwah penunggu Cunca Rami.