Cerita Petualangan di Labuhan Bajo – Pulau Komodo

Posted By : Alfa Gumilang/ 183 0

Salah satu liburan yang tak terlupakan bagi saya adalah ketika menjelajahi Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Selama enam hari di sana, tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Setiap persinggahan mengelilingi Labuhan Bajo dan sekitarnya, selalu memberikan sensasi tersendiri.

Memang sepulang dari sana, tubuh saya bentol-bentol gatal di tangan dan kaki usai snorkeling di Kanawa Beach. Hasil pencarian melalui Mbah Google menunjukan bahwa bentol tersebut disebabkan oleh karang atau biota laut. Itu adalah upaya dari karang atau biota laut lainnya untuk mempertahankan diri, walau sebenarnya saya tak melakukan penyerangan terhadap mereka. Tapi tak apalah, itu menjadi oleh-oleh sepulang dari Jakarta. Dan ketika orang bertanya kenapa bentol-bentol, saya akan menjawab panjang dan lebar tentang perjalanan tak terlupakan menikmati alam di NTT.

Sore hari pertama di Labuhan Bajo, saya dan lima orang lainnya berkumpul di satu rumah makan di pinggir pantai. Tahun 2015, tak tahu pasti tanggalnya. Beberapa orang saya kenal, lainnya baru berkenalan di rumah makan itu. Berjanji bertemu di Labuhan Bajo di hari itu untuk mulai bersama berpetualang menikmati pulau Komodo dan sekitarnya.

Esok paginya kami baru bergerak. Di benak saya hanya ada pulau Komodo yang terkenal di seantero jagat. Ternyata kami tak diajak langsung ke pulau Komodo oleh Pak Jefar, tour guide sekaligus kapten perahu yang kami tunggangi. Pulau Kelor adalah tempat pertama yang kami singgahi. Turun sebentar dan bermain air di pantai berkarang sembari berfoto-foto. Panas sekali saat itu. Untungnya topi dan kacamata hitam sudah saya siapkan.

Foto bersama saat menuju bukit di pulau Kelor.
Foto bersama saat menuju bukit di pulau Kelor.

Baru sebentar bermain di sana, Pak Jefar lantas mengajak kami mendaki bukit. “Ayo kita naik bukit di atas sana, kita bisa lihat pemandangan yang indah dari puncaknya,” ujarnya sembari ia meminta agar kami membawa bekal air mineal.

Sempat ragu karena panasnya hari itu dan keringnya bukit berbatu. Hanya terlihat satu pohon di ujung bukit itu. Tapi untuk apa jauh-jauh ke sini kalau meragu menjelajahi setiap tantangan yang disajikan. Benar saja, satu orang teman saya tak sanggup mencapai puncak bukit. Ia lelah, berhenti di tengah jalan. Kami tinggalkan ia, ditemani oleh Pak Jefar.

Setengah perjalanan mendaki bukit itu saya sudah mulai bisa membayangkan bagaimana pemandangan dari atas sana. Panas, lelah, dahaga dan segala keluh kesah buyar sudah. Pemandangan dari atas bukit itu seperti foto-foto yang bertebaran di Instagram. Biru lautnya, lekuk tiap teluk di pulau itu, benar-benar mengagumkan. Masing-masing dari kami lalu bergaya di depan kamera dengan latar pemandangan tiga buah teluk di pulau Kelor yang berwana biru.

Pemandangan di atas bukit di pulau Kelor.
Pemandangan di atas bukit di pulau Kelor.

Andai saja ada penginapan di pulau itu, mungkin berdiam semalam tak ada salahnya karena tak akan bosan melihat laut dari atas bukit. Pak Jefar yang merupakan penduduk asli pulau Komodo tak sabar ingin mengajak kami orang-orang kota yang norak dengan pemandangan alam ini, untuk menyaksikan sensasi-sensasi lain.

Pink Beach adalah tujuan kedua kami. Langsung saja dari atas perahunya kami loncat menikmati terumbu karang, tumbuhan laut, dan aneka ikan-ikan kecil yang menggemaskan. Satu jam mungkin snorkeling di sana, lalu dilanjutkan makan siang bersama di pinggir pantai yang berwarna pink. Main-main di bibir pantai, berfoto tentu tak lupa. Sebelum beranjak pergi kami hendak mengambil pasir pink itu, tapi Pak Jefar melarang kami. “Jangan, nanti kalau setiap orang main ke sini bawa pasir, lama-lama bisa habis dan gak berwarna pink lagi pasirnya,” katanya.

Masuk akal celotehnya, bukan semata menjaga alam agar tetap seperti adanya. Namun juga menjaga daya tarik dari kepulauan Komodo ini, agar orang-orang seperti Pak Jefar ini masih dapat tetap hidup dari wisata alam. Karena menjadi nelayan di sana, tak lebih baik penghasilannya.

Pink Beach di kepulauan Komodo.
Pink Beach di kepulauan Komodo.

Menjelang gelap, perahu menuju ke sebuah pulau yang memiliki banyak pohon mangrove besar. Sore itu saya duduk di ujung perahu, ingin menikmati lautan dangkal berteman dengan matahari yang jelang terbenam. “Kita lihat nanti kelelawar yang besar-besar pulang ke rumahnya, jumlahnya bisa ribuan,” katanya. Tak sendiri kami di sana, belasan perahu lain juga parkir di pinggir pulau itu, bersama melihat kalong-kalong pulang setelah seharian bekerja.

Niatnya malam itu kami akan tidur menginap di perahu saat perahu bersandar di sisi lain pulau Komodo yang juga adalah perkampungan penduduk asli pulau itu, biar terlihat seperti backpacker pada umumnya maksudnya. Tapi Pak Jefar menawarkan menginap di rumah panggungnya. Ruang tamu kami penuhi, ia dan istri serta anaknya tidur di kamar.

“Pak, penduduk yang tinggal di pulau Komodo ini emangnya gak takut kalau ada komodo dateng ke sini gitu?” tanya saja pada Pak Jefar di teras rumahnya usai makan malam bersama dengan hidangan seadanya namun nikmat luar biasa.

Pak Jefar tersenyum kecil, mungkin itu pertanyaan yang sering ia terima. “Kita kan penduduk asli, sudah ratusan tahun turun temurun tinggal di sini. Bagi orang di pulau Komodo, mereka itu adalah bagian dari keluarga kami. Kami hidup berdampingan, tak boleh saling mengganggu. Kalau ada komodo yang ke kampung, tak akan kami bunuh atau kami usir. Nanti mereka juga akan pergi sendiri,” ujarnya.

Ia juga menceritakan bagaimana masyarakat lokal di sana selalu memberikan sesaji, berupa ayam, bunga, rokok kretek di waktu-waktu tertentu. Bagi Pak Jefar, komodo bukanlah binatang. Komodo adalah leluhur yang hidup berdampingan bersama para penduduk di sana. Pukul 22.00 WITA, listrik padam, menghentikan perbincangan kami malam itu.

Beberapa wisawatan saat sedang mengambil gambar komodo.
Beberapa wisawatan saat sedang mengambil gambar komodo.

Pagi di kemudian hari barulah kami diantarkan ke pulau Komodo. Tujuan utama perjalanan. Setiap rombongan wisatawan akan dipandu oleh sorang guide, bukan saja sebagai penunjuk jalan, tapi juga sebagai orang yang akan melindungi jika ada hal-hal tak terduga. Pak Jefar mengambil sebuah kayu besar yang ujungnya bercabang, seperti alat menangkap ular, namun lebih besar dari segi ukuran.

Guide yang duduk di dekat pintu loket tampak menyapa Pak Jefar, sesama penduduk di pulau itu rupanya. “Sudah, masuk saja ya, tak usah ditemani. Ada Pak Jefar,” ujar si guide.

Pak Jefar lah yang menjadi guide kami di pulau Komodo. Ia memastikan dahulu bahwa di antara kami tak ada yang menstruasi, karena komodo dapat mencium bau darah dan dapat mengundang perhatian. “Jangan ada gerakan-gerakan mendadak, atau menenteng tas sambil diayun. Peluk tasnya atau masukan ke ransel,” lanjutnya.

Seperti film horor saat memasuki kawasan hutan pulau Komodo. Jalan setapak berbatu, dan kanan kiri pohon-pohon rindang dan tanaman merambat. Sunyi dan agak gelap karena rindangnya. Suara burung gagak yang bersautan benar-benar membawa suasana nampak seperti film horor. Hingga sampai kami di tanah lapang, dua komodo nampak sedang berdiam usai minum air di kubangan yang telah disediakan.

Guide lain menjelaskan kepada wisatawan manca negara yang ada di lokasi, Pak Jefar sibuk mengambil gambar kami dari belakang komodo. Ia nampak begitu handal menggunakan kamera smartphone, mungkin ia sudah belajar agar dapat menyenangkan wisatawan yang diajaknya. Tiga puluh menit di sana, ia mengajak kami berjalan lagi menelusuri pulau itu. Diperjalanan terlihat beberapa kali anak-anak komodo yang berlari kencang, seperti anak-anak kecil yang senang bermain berlari-lari. Reptil besar ini kabarnya dapat berlari secepat 20 kilometer per jam.

Di ujung perjalanan menyusuri pulau, pendopo-pendopo besar telah menunggu kami untuk istirahat. Komodo-komodo dengan ukuran besar ada di sekitarnya. Tak ada serangan kepada para pengunjung, mungkin karena mereka dipastikan dalam kondisi perut yang kenyang.

Tujuan utama sudah tercapai. Tapi petualangan belum berakhir rupanya. Kami diajaknya untuk melihat berbagai spot snorkeling, dan salah satunya adalah spot untuk berenang bersama manta, ikan pari dengan ukuran besar. Hanya dua orang dari kami dan Pak Jefar yang turun ke laut berenang bersama manta. Saya hanya melihat dari atas perahu. Bukan semata karena arus saat itu cukup deras yang menjadi alasan tak ikut berenang, tapi juga kemampuan berenang yang ala kadarnya serta nyali yang tak cukup besar untuk ikut nyemplung.

Malam berikutnya kami juga urung menginap di perahu, hanya Pak Jefar dan awak kapal yang tidur di perahu. Sementara kami berenam tidur di sebuah resort di pulau Kanawa. Kami undang mereka untuk makan malam di bawah pohon besar yang dihiasi lampu-lampu berwarna kuning. Suguhan minuman lokal, sopi yang dibawa Pak Jefar menambah gelak tawa malam itu.

Di pulau Kanawa itu, kita bisa menikmati sunrise yang indah, tak akan ditemukan di kota-kota. Sebelum kembali ke Labuhan Bajo, kami terakhir kali menikmati pemandangan biota laut di dermaga pulau itu. Ikan-ikan barakuda, anak hiu, atau ikan GT ukuran kecil. Disitulah saya mendapat kenang-kenangan bentol-bentol gatal.

Saat snorckeling di pulau Kanawa.
Saat snorckeling di pulau Kanawa.

Sore sampai di Labuhan Bajo, perahu bersandar. Bersalaman dengan Pak Jefar dan awak kapalnya, tanda perpisahan. Serasa ingin saya peluk ia, tapi pasti akan disangka lebay. Namun memang sangat disayangkan harus menyudahi petualangan keliling kepulauan di Komodo. Tak perlu menangisi perpisahan, karena ia telah mengantar kami ke tempat-tempat yang penuh dengan kebahagiaan.

Foto Pak Jefar, guide kami selama mengarungi kepulauan Komodo.
Foto Pak Jefar, guide kami selama mengarungi kepulauan Komodo.

Dua hari di Labuhan Bajo kami habiskan untuk berkunjung ke air terjun Cunca Rami. Tracking menurun selama 30 menit, melewati kebun, sungai kecil, dan sawah untuk mencapai air terjun yang indah itu. Tak lama bermain air di sana, dingin sekali. Perjalanan pulang dari air terjun memakan waktu cukup lama, karena jalan yang menanjak dan banyak istirahat.

Gua cermin, gua Liang Bua tempat ditemukannya manusia purba di flores yang berukuran mini, mampir ke museumnya yang kecil, dan juga bertemu dengan keturunan dari manusia mini di sana. Kabarnya mereka adalah keturunan terakhir. Pemandu di museum yang mengantarkan kami bertemu mereka, sekaligus menjadi penerjemah karena mereka tak bisa menggunakan bahasa Indonesia.

Orang bilang liburan itu menghilangkan stres akibat keharusan rutinitas bekerja. Tak salah memang pernyataan tersebut. Tak ada ruginya bagi saya jika harus kembali lagi ke sana, menyusuri ulang petualangan di Labuhan Bajo dan pulau Komodo karena dua tahun usai liburan itu, keindahan di sana masih terngiang di kepala.

Legenda Air Terjun Cunca Rami, Flores

Posted By : Ronny Hendra/ 166 0

Di Flores bagian barat, jauh di sebuah desa, ada dongeng tentang pemuda tampan yang berubah wujud dari seekor udang. Pertemuan seorang gadis kampung dengan pemuda itu, menjadi cerita di balik keindahan Air Tejun Cunca Rami, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.

Dari Kota Labuan Bajo menuju ke air terjun Cunca Rami ditempuh dengan naik mobil sekitar 2 jam. Air terjun ini ada di Desa Golondaring. Jam pertama mobiil melaju tenang di aspal mulus jalan provinsi itu. Jam kedua berubah drastis. Mulai dari sebuah pertigaan ke arah desa ini, jalan menurun berbatu dan berlubang. Kiri-kanan hijau hutan, hingga kami tiba di desa Waelolos, yang bisa dikatakan sebagai pintu masuk ke air terjun.

Gambar wisatawan yang sedang tracking menuju lokasi air terjun Cunca Rami.
Gambar wisatawan yang sedang tracking menuju lokasi air terjun Cunca Rami.

Sudah ada beberapa pemuda yang akan memandu pengunjung ke air terjun Cunca Rami. Menuju ke air terjun itu harus bejalan kaki lagi sekitar setengah jam, dengan tracking yang cukup menantang. Sempit, menurun, masuk ke area hutan. Lepas dari track menurun tersebut, kita akan bertemu dengan persawahan, sungai, dan akhirnya tiba di air terjun ini. Saat itu sepi, hanya rombongan kami saja, dan sepasang bule.

Ada satu rumah di dekat air terjun itu, ditinggali oleh seorang wanitu tua bernama Maria Minu. Wanita ini berasal dari Kampung Lamo, di bukit Mbeliling.

Cerita Legenda Cunca Rami
Mata air sumber air terjun Cunca Rami adalah tempat bertemu seorang gadis kampung dengan pemuda yang kelak menjadi suaminya. Gadis itu yang sedang mencuci rambut dengan sabut kelapa, melihat seekor udang di mata air tersebut. Ketika dia mau mengambil udang itu, si gadis terjatuh, dan seketika udang itu berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan yang menyambut tangan sang gadis.

Pemuda itu berterimakasih sambil berkata, “Tinggallah di sini, ini rumah kita sekarang.”

Seharian tidak pulang ke rumah, orangtua si gadis sibuk mencarinya, dibantu oleh warga Kampung Lamo, tempat tinggal gadis itu. Semalaman mereka mencari namun tidak menemukan. Sampai suatu hari, bapak si gadis bertemu dengan seorang pemuda yang tak dia kenal, tak pernah dia jumpai di kampung-kampung sekitar tempat tinggalnya.

“Bapa cari siapa?” tanya si pemuda.
“Saya cari anak gadis saya.”
“Tidak usah Bapa cari lagi anak itu. Dia sudah tinggal di rumah saya.”

Si bapak kebingungan karena dia tidak melihat rumah di sekitar itu, hanya hutan dan kolam mata air tadi.

“Kalau bapa mau bertemu anak bapa, pejamkan mata sebentar, lalu buka lagi,” kata si pemuda itu.

Bapak itu mengikutinya, dan begitu dia membuka mata, kagetlah dia karena sudah berada di sebuah rumah mewah dan indah. Dan anak gadisnya ada di sana menyambut dia. Diajak anak gadis itu pulang, tapi si anak tidak mau.

“Bapa, ini rumah saya sekarang. Dia suami saya,” kata si anak sambil menunjuk pemuda tadi.

Bapak itu berkata ke si pemuda, kalau memang ingin mengambil anaknya maka mereka harus menikah. Secara adat, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai mas kawinnya. Si pemuda setuju, dan disepakati dalam 7 hari ke depan si pemuda akan membawa keluarganya, dan anak gadis istrinya itu, ke Kampung Lamo. Beserta juga akan dibawa kerbau, keping uang, dan sebagainya sebagai syarat mas kawin.

Sebelum kembali ke kampungnya, si bapak mengajukan satu syarat lagi, “Buatkan satu compang (tugu) untuk nanti mengikat kerbau-kerbau yang kamu bawa. Compang itu harus kau bangun dalam satu malam, persis di depan kampung kami.”

Setelah mendapat jawaban kesediaan dari si pemuda itu, si bapak kembali ke kampungnya dan menceritakan semua itu ke warga kampung. Si Bapak tetap merasa tidak rela menikahkan anaknya dengan pemuda yang ia tidak tahu berasal dari mana. Warga kampung juga merasa demikian. Bersiasatlah mereka, supaya bagaimana caranya si anak gadis bisa kembali ke rumah dan pernikahan dibatalkan.

Warga menyiapkan satu rumah dengan satu kamar khusus, yang nantinya akan disediakan untuk si gadis ketika tiba di kampung. Rencananya, kamar itu akan dikunci dan tidak akan bisa dibuka oleh siapapun, sehingga si gadis tidak akan bisa keluar lagi. Warga juga menyiapkan anjing-anjing terbaik untuk mengusir keluarga si pemuda tadi, juga untuk menghabisi kerbau-kerbau yang nanti dibawa.

Malam ke-6 setelah itu, warga kampung kaget karena berdiri sebuah tugu di depan kampung mereka. Itulah tugu yang menjadi salah satu syarat. Dibangun hanya dalam satu malam, tanpa diketahui oleh warga kampung. Tugu itu adalah bongkahan batu-batu besar yang ditumpuk, yang tidak akan mungkin dikerjakan oleh manusia biasa hanya dalam waktu singkat.

Tibalah hari ke-7, hari yang dinantikan. Rombongan tiba, beserta ratusan ekor kerbau yang mereka bawa, melebih jumlah yang disyaratkan. Keluarga pemuda itu juga membawa ratusan keping uang. Mereka disambut oleh warga dan digelar pesta. Malam harinya, si anak gadis dibawa ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dikuncinya kamar itu. Sementara satu per satu orang sudah tidur, begitu juga pemuda tadi dan keluarganya.

Tengah malam, warga melepas anjing-anjing untuk menyerbu cunca-rami2keluarga si pemuda dan mengusir mereka. Namun ajaib, anjing-anjing yang menyerbu ke compang atau tugu tempat mengikat kerbau, hanya mendapati ratusan kerbau itu telah berubah menjadi babi hitam kecil. Ratusan keping uang berubah menjadi ranting-ranting kayu. Si pemuda dan keluarganya tidak ada di tempat istirahat mereka, menghilang. Dan ketika warga mengecek kamar si gadis, ternyata anak gadis itu sudah tidak ada.

Sang Bapak bersama warga kampung mencari rombongan keluarga pemuda itu, hingga tiba di kolam mata air tempat awal mula semua ini terjadi. Bapak si gadis mencoba memejamkan mata, namun tidak terjadi apa-apa. Marahlah mereka semua. Seketika datang air bah dan menyapu semua orang kampung yang ada di sekitar mata air itu. Tewaslah mereka. Aliran mata air itu bermuara pada sebuah air terjun, yaitu air terjun Cunca Rami. Dan arwah warga kampung yang tersapu air bah diyakini sebagai arwah penunggu Cunca Rami.