Islam new year in traditional Betetulak people

Posted By : adm-adat/ 128 0

Indigenous peoples in some areas in Lombok island commemorate the Islamic New Year with long traditional rituals. Not just one day like Muslims in general, but four days with colorful and cheerful events. This is a form of harmony between religion and traditional customs. Islam which brought to Lombok by Sunan Prapen in the 13th century was combined with ancestral heritage.

So what makes this new year event interesting?

One thing is about traditional culinary. On the first day there is ‘bubur pute’ or white porridge and ‘bubur abang’ or red porridge. Those white and red come from two types of rice. White Porridge symbolizes the father and red porridge symbolizes the mother. A dish that symbolizes human origins, which began with the union of men and women.

Then on the second day, the ritual pancake called Bekerem will be served. A cake with meaning of the fetus or the origin of life. The third day you will be presented with a combination of large and small ‘ketupat’ (a rice cake covered with coconut leave and made in form of diamonds). This dish means an expression of human gratitude to God.

On the fourth day, rice and side dishes are served. But it is not allowed to serve side dishes from living things or animals. The meaning is for recovery and purification of the heart, simplicity, and get life as what it is.

And it’s already make hungry 🙂

Beside the food, there will be rituals and prayers with the use of Banyan trees as a symbol of protection from leaders to all people. Also holy water that has been prayed for some nights earlier, use to face washing. In this ritual, people will walk around the village at 12 o’clock midnight, every night for those 4 nights of ritual.

 

Cleaning heirlooms 

Indonesian people traditionally love to keep relics or heirlooms which was inherited from ancestors. Mostly those things are weapon, such as keris, sword and spear. Just like some area in Java, also in Lombok they have ritual to clean those heirlooms in this new year moment.

The ritual caretakers will sit in circle on a ‘berugak’ (a kind of pavilion) with those sacred relics in front. There is also a box wrapped in white cloth, complete with several flowers.

Mahzar is one of the ritual leader. He is descended of a war leader againts Dutch colonial in the past. The heirlooms about to cleansed in the ritual are relics of the Selaparang Kingdom which were used in the war.

After the cleaning process he lead everyone to put back those relics inside a small 16m square and 5 meters tall hut. People called this hut as a historic site, the only one left in Rembiga area, after the other two were broken long time ago.

When people walk around village every nights, the take those relics around. They belief it as a moment to avoid bad lucks and wish for good hopes.

“We have to keep doing this Betetulak ritual every year, so everyone, especially youth never forget their history and respect their ancestors”, said Mahzar.

By: Syahadatul Khaira

Wujud syukur masyarakat adat Wologai dalam ritual Po’o

Posted By : adm-adat/ 258 0

Masyarakat adat Wologai di Flores mengenal ritual Po’o yang menjadi tradisi tahunan masyarakat saat akan memulai kegiatan pertanian. Po’o dalam bahasa keseharian daerah Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, dapat diartikan sebagai celengan untuk menabung yang terbuat dari ruas bambu. Po’o adalah media untuk memperingati tradisi kehidupan para leluhur, menyantap makanan dengan perabot makanannya yang terbuat dari ruas bambu.

Masyarakat adat tidak pernah lepas dari ritual, sebagai bentuk pernghormatan terhadap tradisi dari para leluhur dan berkah dari alam semesta. Masyarakat adat Wologai di Flores mengenal ritual Po’o yang menjadi tradisi tahunan masyarakat saat akan memulai kegiatan pertanian.

Po’o dalam bahasa keseharian daerah Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, dapat diartikan sebagai celengan untuk menabung yang terbuat dari ruas bambu. Po’o adalah media untuk memperingati tradisi kehidupan para leluhur, menyantap makanan dengan perabot makanannya yang terbuat dari ruas bambu.

Mulai dari Po,o Are (memasak nasi dengan menggunakan ruas bambu) sampai Po’o Uta (memasak sayur dengan menggunakan ruas bambu). Misalnya dalam Po’o Are, ruas bambu diisi dengan beras dan air kemudian dibakar hingga matang. Setelah matang langsung siap disajikan, dengan terlebih dahulu dibagikan secara merata kepada seluruh fai waku ana kalo (anggota masyarakat adat).

“Ritual Po,o adalah sesajian kepada leluhur agar kerja-kerja anggota komunitas dalam bertani dan bercocok tanam akan berhasil dan mendapatkan kekuatan untuk mengusir hama sawah,” kata Petrus Manggu seorang mosalaki atau tokoh adat Wologai.

Tradisi ini menjadi kekuatan roh tersendiri bagi masyarakat adat Wologai, dengan meminta pemberkatan dari leluhur yang telah memberikan jalan, petunjuk, serta penghasilan alam bagi kehidupan masyarakat.

Ritual Po’o juga menjadi momen saling bertukar informasi, cerita dan aturan-aturan adat, pengamanan tapal batas kebun, aturan hukum adat terkait dengan proses pengolahan lahan dan pengelolaan hasil produksi. Seperti pengelolahan hasil kerja kebun dan menyampaikan pola pembangunan yang ada di komunitas.

Selain urusan adat, tokoh adat atau mosalaki juga bisa menyampaikan himbauan untuk terus saling menjaga pengertian dan komunikasi sosial di antara masyarakat dalam ikatan hubungan tali persaudaraan.

Seorang tokoh adat lainnya Wilhelmus Weto bercerita, masyarakat adat Wologai dalam sejarah keberadaanya bisa dikatakan sebagai manusia yang hidup jauh sebelum Indonesia lahir. Namun masyarakat tetap menjaga kuat budayanya, mempertahankan sejarah dan keturunan, serta riwayat perjuangan leluhur dalam mempertahankan tanah.

“Melaksanakan adat tidak boleh main-main dan menganggapnya sebagai lelucon. Urusan adat adalah urusan yang berhubungan dengan jiwa dan hidup manusia di wilayah itu,” kata Wilhelmus.

Tanah Wologai adalah tanah sakral yang di dalamnya mengandung unsur mistik. Percaya atau tidak, ketika perbuatan manusia semena-mena dengan alam dan tanah adat, maka akan membahayakan jiwa manusia itu sendiri.

“Sering kali manusia dengan perkembangan teknologi mengabaikan hal-hal yang berhubungan dengan keutuhan ciptaan Tuhan dan para pendahulu. Di Wologai, warisan tanah saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang dan memakan korban yang cukup banyak,” lanjut Wilhemus.

Tanah adalah Ibu yang memberikan penghidupan seluruh umat manusia. Jika tanah itu tidak dijaga dan dirawat, sesunggunya manusia itu telah mencelakakan dirinya dan sesamanya. Itulah yang dipegung teguh oleh masyarakat adat Wologai.
Oleh: Yulius Fanus Mari

 

Hikayat Pohon Kemenyan, Cerita Rakyat Dari Tanah Batak

Posted By : Jeffar Lumban Gaol/ 2882 0

Dahulu kala ada seorang gadis cantik jelita berambut panjang terurai, namun hidup miskin bersama orang tuanya di pinggiran hutan yang jauh dari onnan (pasar). Pada mulanya hidup mereka tenang dan tentram, sampai datangnya seorang saudagar menagih hutang pada keluarga petani miskin tersebut. Petani itu berjanji akan segera melunasi hutangnya pada hari onnan pekan depan.

Saudagar itu pun tak bisa berbuat apa-apa, sebab tak ada harta yang bisa disita dari si petani. Dia marah dan mengancam akan menghabisi nyawa si petani jika tak segera melunasi hutangnya, barulah penagih hutang itu pergi. Mendengar ucapan dan amarah saudagar yang mengancam nyawa amongnya, gadis cantik belia putri pak tani sedih bukan kepalang. Tak tahu dia bagaimana cara menolong amongnya lunasi hutang tersebut.

Pada saat hari pekan tiba, saudagar kejam sudah menunggu si petani di onan pasar, namun karena yang ditunggu tak juga muncul. Akhirnya saudagar kehilangan kesabaran dan bergegas menuju rumah petani. Dari jauh petani sudah melihat kedatangan saudagar yang marah karena dia belum bisa bayar hutang. Dan untuk gantinya, saudagar ingin mengawini putri petani yang cantik itu.

Namun melihat gelagat kurang baik, tanpa pikir panjang lagi, pak petani menarik tangan anak gadisnya dan berlari sembunyi masuk hutan belantara. Mereka baru kembali ke rumah, setelah penagih hutang itu pulang.

Kejadian serupa berulang kali terjadi, yang pada akhirnya membuat gadis cantik berambut panjang tersebut tak tahan lagi melihat penderitaan bapaknya yang tak berdaya. Diapun mengutarakan niatnya untuk pergi ke hutan seorang diri demi mencari hasil hutan yang bisa dijual.

“Among (Bapak), ijinkanlah aku pergi ke hutan sendiri mencari hasil hutan, biar bisa kita bayar hutang among itu,” kata si gadis terisak-isak.

Mendengar itu, pak petani tak tega membiarkan putrinya sendirian masuk hutan dan dia mau ikut.

“Jangan among, karena tadi malam aku mimpi dan dalam mimpiku ku lihat ada sebatang pohon yang dapat menolong kita membayar hutang bapak,” ungkap anak gadisnya lembut.

“Tapi, aku hanya bisa menemukan pohon itu jika aku datang sendirian. Bila ada orang menemaniku masuk hutan meskipun cuma seorang saja, aku tak kan bisa menemukannya. Begitulah pesan orang tua dalam mimpiku,” papar si gadis lebih lanjut.

Beberapa saat pak petani diam terpaku sambil menimbang apakah dia mengabulkan permohonannya. Sambil menarik nafas panjang barulah dia mulai bicara.

“Boruku (gadis), jika memang itu keputusanmu dan pesan lewat mimpimu juga tak mengijinkan aku ikut, baiklah, pergilah nak. Kau harus hati-hati, karena banyak binatang buas di sana. Tapi jika aku lama menunggu dan kau tak juga pulang, aku akan mencarimu masuk hutan,” jawab pak petani.

“Baiklah among, akan kuingat pesanmu tadi. Aku harus segera berangkat sebelum saudagar itu datang,” kata anak gadis itu sambil pamit melangkah memasuki hutan larangan.

Di dalam hutan larangan anak gadis tadi langsung mencari pohon muncul dalam mimpinya ke semua sudut penjuru mata angin. Setelah lama mencari dan tak juga menemukan pohon dimaksud, dia pun ingin istirahat sejenak. Belum lama dia beristirahat, tiba-tiba terdengar suara memanggil-manggil dan suara itu dikenalinya sama dengan suara orang tua dalam mimpinya.

“Kemarilah anakku, mendekat ke sini,” kata suara aneh itu lagi.

Anak gadis itu gemetar dan hampir saja pingsan terkejut dan juga karena tak melihat sosok siapapun di sana.

“Jangan takut cucuku , sebab hanya dengan cara inilah kau dapat menolong orang tuamu membayar hutangnya dan juga akan membawa kemakmuran bagi orang banyak,” kata suara itu lebih lanjut.

Perlahan gadis berambut panjang dan cantik itu mulai bisa mengatasi rasa takutnya. Dengan suara lirih dia mohon tidak diganggu dan menunjukkan di mana letak pohon yang dijanjikan dalam mimpinya tersebut.

“Ompung (kakek) jika kau benar dan tidak bohong padaku tunjukkanlah di mana letak pohon itu?” pintanya dengan penuh harap.

“Hahahahaaa… cucuku, aku sudah tahu maksud kedatanganmu, supaya bisa bayar hutang bapakmu kan?”. Gadis itu mengangguk saja pelan.

“Nah karena ketulusan hati mu, kaulah boru yang terpilih dan bisa menjelma jadi pohon seperti tersirat dalam mimpi mu itu. Hanya dengan cara itulah bisa membayar hutang amongmu,” kata suara tua itu menjelaskan

Manangislah gadis tersebut, tetes air matanya mengalir jernih saat menyadari dirinyalah orang yang dimaksud dalam mimpinya tersebut. Dan mulai saat ini dia tak bisa jumpa lagi among-nya. Dengan alasan cinta pada orang tua dia rela berkorban dan menjelma jadi pohon berambut panjang yang selalu menetes kan air mata.

“Maaf ompung, aku terima jalan apapun yang harus kutempuh, tapi bagaimana menerangkan kejadian ini pada among ku?” tanya si gadis dengan sopan.

“Tabahkan hatimu cucuku, nanti aku beritahu among-mu lewat mimpi persis seperti yang kau alami. Kubimbing dia berziarah ke sini membersihkan tempatmu berpijak di bumi ini, juga membawa itak gurgur sebagai pangannanmu. Ingatlah, jika ada orang datang ke sini nanti, itulah among-mu,” jawab suara tua itu.

Tak lama kemudian gadis tersebut menjelma jadi sebatang pohon yang selalu tangis dan rambutnya tergerai memanjang. Sebagamana halnya pohon haminjon/kemenyan.

Manige, Cukulilan Pertama Pada Batang Pohon Kemenyan

Posted By : Jeffar Lumban Gaol/ 241 0

Sampai awal tahun 70-an tahun, kemenyan yang dalam bahasa latin ilmiahnya dikenal sebagai Styrax Benzoin, mempunyai makna sakral dalam keyakinan masyarakat adat di Tanah Batak Kabupaten Humbang Hasundutan, Wilayah Adat Marbun.

Sampai awal tahun 70-an tahun, kemenyan yang dalam bahasa latin ilmiahnya dikenal sebagai Styrax Benzoin, mempunyai makna sakral dalam keyakinan masyarakat adat di Tanah Batak Kabupaten Humbang Hasundutan, Wilayah Adat Marbun.

Bagaimana leluhur itu dulunya memperlakukan pohon kemenyan? Dalam kultur petani, kemenyan di Humbang, dikenal satu istilah manige. Magine adalah mencungkil pada batang pohon kemenyan dengan cara unik. Hal itu bertujuan agar batang pohon yang dilukai tadi, dapat memproduksi getah kemenyan yang disebut sidukapi.

Sidukapi adalah getah pertama yang muncul setelah 3 bulan di sige. Dikatakan unik, sebab saat pohon kemenyan mencapai umur antara 10 sampai dengan 15 tahun, atau saat bunga pohon kemenyan sudah mulai berguguran, itulah tanda pohon kemenyan itu sudah layak di sige.

Maninge adalah cukilan pertama pada batang pohon yang akan menghasilkan getah berwarna putih. Getahnya tersebut baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian, yang disebut mangaluak atau mengambil hasil getah kemenyaan.

Dalam tahapan proses manige, hal yang pertama dikerjakan adalah mangarambas, yaitu membersihkan tumbuhan yang ada di radius sekitar 2 meter, dari batang pohon.

Perkakas atau alat-alat para parhaminjon; ada agat berbetuk pisau bulat kecil digunakan mengambil getah haminjon. Getah tersebut menempel pada kulit batang pohon, maka untuk memanennya, petani harus mencongkel kulit batang kemenyan dan ditampung wadah bahul-bahul.

Getah putih yang disebut sidukapi adalah getah paling berkwalitas dari pohon hamijon, harganya mahal. Dari bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut tahir, biasanya dipanen dua-tiga bulan setelah memanen sidukapi, harganya lebih murah.

Haminjon yang tumbuh secara alami disebut haminjon jalangan. Bagi masyarakat, par haminjon jalangan diyakini ditanam oleh mulajadi nabolon (penguasa langit bumi). Dan karena lebih besar dan getahnya lebih banyak, anakan dari haminjon jalangan inilah yang diambil, ditanam kembali untuk regenerasi.

Sebelum pohon kemenyan dikerjakan, semua peralatan disiapkan, dibersihkan dan diasah. Dilanjutkan acara makan sesaji dengan iringan doa. Kemudian pohon kemenyan dikerjakan satu per satu. Pada saat tidur malam di sopo dalam hutan, biasanya dapat petunjuk lewat mimpi, seperti dalam mimpi kisah legenda si boru ganjang obuk (putri berambut panjang). Jika mimpi menyiratkan bagus, maka pohon kemenyan lainnya dapat dikerjakan.

Motif Tenun Sebagai Identitas Masyarakat Adat Dobo

Posted By : adm-adat/ 187 0

Matahari siang itu panas terik saat memasuki perkampungan Dobo, Maumere, Flores – Nusa Tenggara Timur. Jalan yang sempit dan mendaki seakan menantang untuk mencapai kampung ini. Cukup melelahkan dan tubuh penuh keringat. Namun udara terasa sejuk, karena angin bertiup cukup kencang mengitari pepohonan perkampungan Dobo.

Kampung Dobo terkenal dengan artefak perahu perunggu Jong Dobo yang misterius, karena berada di tengah hutan larangan. Hampir setiap minggu ada pengunjung datang melihat artefak Dobo, yang diyakini penduduk setempat, perahu perunggu tersebut muncul setelah dilaksanakan ritual oleh penjaga artefak, Pak Sergius Moa selaku Tana Puan (pemangku adat).

Selain terkenal artefak Jong Dobo, kampung Dobo juga dikenal masyarakat Kabupaten Sikka sebagai kampung kerajinan tangan. Berkembang karena sanggar seni Jata Kapa Dobo, dan juga seniman pengrajin tenun ikatnya yang aktif mengisi acara daerah, seperti pagelaran dan pameran seni.

Kondisi perkampungn Dobo berbentuk lingkaran, di tengah-tengah perkampung terdapat beberapa artefak megalitis batu Mahe atau watu Mahe (batu berbentuk dolmen) dan Menhir. Rumah-rumah penduduknya dari tiang kayu, berdinding bambu dan di samping rumah biasanya ada bangunan kecil, beratap daun kelapa tanpa dinding, sebagai tempat perempuan Dobo menenun.

Terdengar ada suara seperti orang memukul-mukul kentongan. Suaranya nyaring namun sesekali diam dan tiba-tiba terdengar lagi. Sumber suara itu berasal dari alat tenun yang sedang digunakan oleh perempuan-perempuan Dobo yang sedang bekerja menenun.

“Setiap hari mereka menjual pinggang,” kata Kanisius Ani, sosok yang aktif berkegiatan di Aliansi Masyarakat Adat-Nusa Bunga Komunitas Iantena.

Istilah “menjual pinggang” ditujukan pada kaum perempuan yang setiap hari menahan alas kayu (pine), dimana pinggangnya diikat tali agar alat tenun tidak terlepas. Kaum perempuan menekuni pekerjaan ini untuk menambah pendapatan keluarga. Selain untuk dijual, tenun sarung dipakai untuk mengikuti kegiatan umum maupun resmi.

Sejarah Tenun Dobo
Menurut Sergius Moa, pewaris Jong Dobo ke-7, tenun ikat Dobo sudah ada sejak masa Moat Wogo Pigang, generasi pertama pewaris artefak Jong Dobo. Keahlian menenun diwariskan secara turun temurun sampai sekarang, periode Tana Puan Sergius Moa.

Gambar seorang perempuan yang menampilkan salah satu hasil tenun, dengan motif Waten Hutu.
Gambar seorang perempuan yang menampilkan salah satu hasil tenun, dengan motif Waten Hutu.

Dahulu kaum perempuan Dobo menggunakan bahan baku kapas dan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Saat menanam padi di ladang, kaum perempuan menabur biji kapas dan memetiknya setelah panen padi. Untuk bahan pewarna, seperti daun Talinbao dan kulit kayu Tener. Para perempuan Dobo mencarinya di hutan.

“Kondisi sekarang berbeda. Untuk mendapatkan benang, tidak dengan cara memintal benang lagi, karena sudah tidak ada lagi yang menanam pohon kapas. Benang dan bahan pewarna beli di toko,” ujar Wilhemina Wolo, ketua kelompok tenun ikat, Eban Watan.

Hanya pewarna hitam dan biru yang masih menggunakan tanaman nila. Untuk warna merah dan kuning mereka memakai pewarna kimia. Selain sulit untuk mendapatkan bahan baku, proses pembuatan tenun sarung juga memakan waktu cukup lama, jika menggunakan bahan pewarna lokal dan kapas.

Kelompok Eban Watan
Kelompok tenun Eban Watan berdiri tahun 2003 dengan anggota 39 orang. Untuk menyemangati kaum perempuan menenun dan mewarisi pengetahun pertenunan, anggota Eban Watan mementaskan tarian Jata Kapa Dobo, yang ditampilkan dalam berbagai acara di Kabupaten Sikka. Tarian tersebut mengisahkan proses menenun. Mulai dari menanam kapas, hingga proses menenun.

Gambar aktifitas kelompok tenun Eban Watan di kampung Dabo.
Gambar aktifitas kelompok tenun Eban Watan di kampung Dabo.

Kelompok Eban Watan memproduksi dua jenis sarung kain tenun. Sarung perempuan disebut Utan, dan sarung untuk laki-laki disebut Lipa. Perbedaan kedua sarung tersebut ada pada pewarnaan. Sarung perempuan berwarna coklat kemerahan, dengan motif tibu (emas), naga (sawa ria) atau blasin. Sedangkan sarung laki-laki berwarna hitam bergaris tanpa motif. Harga jual sarung untuk perempuan lebih mahal dari sarung laki-laki.

Motif tenun Dobo dan Kekhasannya
Motif Tibu adalah motif khas warisan leluhur Dobo, sejak kaum perempuan mengenal tenun. Motif Tibu inspirasinya dari kebiasaan kaum perempuan, khususnya istri atau anak Tana Puan yang memakai perhiasan emas pada saat mengikuti ritual adat atau menghadiri hajatan besar. Motif ini biasanya ditenun oleh keluarga Tana Puan.

Motif Naga atau biasa disebut Ular Naga Sawa Ria, juga merupakan motif khas warisan leluhur. Motif Naga terinspirasi dari dua ekor naga yang bernama Ama Lago (naga jantan) dan Ina Bela (naga betina). Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kedua ekor naga tersebut mendiami wilayah hutan larangan Dobo, menjaga Jong Dobo, hutan, kampung, serta melindungi masyarakat Adat Dobo.

Motif Blasin adalah motif kreatif kaum perempuan Dobo, yang terinspirasi kondisi perkampungan dan perumahan mereka. Hampir semua rumah penduduk berdinding dan jendela dari anyaman bambu. Mereka menamakan Blasin untuk anyaman bambu (Gadek), berbentuk ukiran berupa ular tangga, bunga, ketupat, salib dan juga hati. Menggunakan motif Blasin ingin menyampaikan pada orang lain keadaan kampung dan rumah mereka.

Motif Waten Hutu (empat hati), adalah motif kreatif yang menceritakan dinamika kehidupan manusia. Baik, buruk, susah dan senang. Menggambarkan perilaku, sikap, moral dalam hubungan antar manusia. Empat hati mengartikan kebersamaan, keharmonisan, solidaritas dan cinta kasih antar manusia.

Motif Ule Ga Bunga (ulat/burung memakan bunga). Setiap tahun Masyarakat Adat Dobo melaksanakan ritual tolak bala. Moment menarik dari ritual ini saat menggoyang pohon-pohon keramat. Pada saat pohon digoyang keluarlah berbagai jenis serangga, ular, ulat dan hampir semua jenis binatang. Motif Ule Ga Bunga yang memakan bunga, terinspirasi dari ritual tolak bala ini. Para penenun bebas menggunakan motif serangga mana saja.

5 Alasan Anda Harus Berkunjung ke Desa Adat Bayan, Lombok

Posted By : adm-adat/ 103 0

Berwisata ke pulau Lombok, mungkin kita akan membayangkan indahnya pantai Gili Trawangan atau pantai Senggigi. Dua tempat wisata yang memang telah dikenal di Nusantara ataupun di manca negara. Tak salah jika wisata di Lombok identik dengan kedua pantai tersebut.

Namun, jika anda ingin mencari suasana yang sedikit berbeda, tak ada salahnya jika anda mencoba tempat yang satu ini. Desa adat Bayan. Terletak di kaki Gunung Rinjani, komunitas adat Bayan bisa dikatakan adalah wajah asli Suku Sasak Lombok. Ada banyak alasan kenapa desa adat Bayan menjadi satu destinasi yang layak untuk dikunjungi. Berikut, kami berikan catatan atas desa adat Bayan.

1. Wisata Adat
Wisata berbasiskan kultur dapat dikatakan pada saat ini tengah naik daun. Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur atau Tana Toraja adalah dua tempat wisata adat yang telah mendunia. Walau baru membuka diri dan bukanlah desa yang terhitung luas dan besar, namun desa adat bayan mencoba menghadirkan gambaran lain dari wisata adat di Nusantara.

bayan1Berkunjung ke desa adat Bayan, kita akan disuguhi tarian-tarian adat, makanan khas, atau juga tidur di rumah adat mereka yang sederhana. Hidup dan bercengkrama dengan masyarakat adat Bayan, cukup menghibur kita dari kejenuhan kota. Menikmati keseharian dengan merasakan kehidupan dan menjadi bagian dari masyarakat adat Bayan, percayalah, akan menghilangkan penat dan bising yang biasa anda ‘nikmati’ di kota.

2. Upacara Mulud Adat
Jika anda datang pada waktu kisaran 14-15 Desember 2016, bertepatan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Masyarakat adat Bayan menyebutnya perayaan Mulud Adat. Masyarakat adat Bayan akan berbondong-bondong berdatangan ke tempat acara digelar, membawa bahan makanan, hasil sawah dan kebun, juga ternak.

Masyarakat adat Bayan akan menyerahkan hasil bumi beserta ‘Batun Dupa’ atau uang, sekaligus bernazar. Nantinya hasil bumi akan diolah dan disajikan untuk diberikan kepada ulama dan tokoh adat keesokan hari. Ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat adat Bayan atas hasil bumi yang didapat. (Open Trip Wisata Mulud Adat Bayan – Lombok https://nusantarakita.id/2016/11/03/open-trip-wisata-mulud-adat-bayan-lombok/)

3. Bentangan Sawahbayan8
Tak hanya Ubud di Bali yang memiliki bentangan sawah nan indah. Tak jauh dari kampung adat Bayan, kita dapat menikmati sawah hijau di pagi hari. Matahari pagi yang muncul dari balik gunung Rinjani, menambah kesegaran mata kita melihat hamparan sawah.

4. Mendaki Gunung Rinjani
Bagi pecinta alam pegunungan, berkunjung ke desa adat Bayan seperti setali tiga uang. Karena anda juga dapat menikmati puncak gunung Rinjani, yang jaraknya tak jauh dari kampung adat Bayan. Tak sampai 30 untuk menuju jalur lokasi pendakian atau kamping di Gunung Rinjani. Di sana sudah banyak orang-orang yang menawarkan jasa untuk menjadi penunjuk arah bagi anda yang ingin mencoba merasakan sensasi gunung Rinjani.

5. Air Terjun
Tak hanya satu air terjun yang dapat kita nikmati di Taman Nasional Gunung Rinjani. Air terjun Sendang Gile tak jauh dari kampung adat Bayan. Pemuda adat Bayan, tak akan segan untuk menjadi guide bagi anda yang ingin menikmati air terjun dari ketinggian 30 meter lebih. Hanya 15 menit perjalanan menuju Sendang Gile dari pintu utama taman nasional.

bayan9Jika anda tak puas, pemuda adat Bayan akan mengajak anda menuju ke air terjun kedua. Butuh waktu 45 menit menuju ke air terjun Tiu Kelep. Melewati jalur tangga yang cukup panjang, hutan yang sejuk, menembus sungai dangkal yang jernih dan dingin, adalah jalur trakking yang menyenangkan. Tentu sayang untuk dilewatkan ketika kita sampai ke air terjun Tiu Kelep, segeralah anda berendam dan menikmati sejuk dan segarnya air dari gunung Rinjani.

Nah, jika anda merasa kelima catatan tersebut di atas cukup menarik. Maka jangan ragu untuk segera mengemas barang dan bergegas menuju Desa Adat Bayan, Lombok.

Desa Rinding Allo – Dinding Matahari di Balik Pegunungan

Posted By : Ronny Hendra/ 264 0

Akhirnya sore hari kami tiba di Desa Rinding Allo, desa yang berupa cekungan mangkuk lembah pegunungan. Masih dibasahi gerimis, beberapa orang berkumpul di pinggir tebing menghadap kejauhan. Di dalam cekungan mangkuk itu adalah dusun-dusun, rumah penduduk dan sawah yang siap ditanami. Tapi sebentar saja pemandangan itu hilang. Kabut tebal menutupinya.

Mau gak kalian pergi ke suatu tempat yang sulit dijangkau, dengan kondisi jalan rusak, berbatu, berlubang, kalau hujan menjadi lumpur. Jalanan menanjak, membelah hutan dan pegunungan, kiri tebing kanan jurang, atau sebaliknya. Naik mobil akan repot, kecuali gardan 4. Naik motor bakal pegal bokongmu selama 3 jam di jalan. Tapi begitu sampai di tempat itu, kalian akan menemukan surga di balik gunung. Yuk, kenali dulu tempat itu, namanya Desa Rinding Allo.

Bulan lalu sebuah pesan singkat masuk ke HP saya. “Mas Joni, mau ndak ikut ke Desa Rinding Allo, bantu kami untuk sebuah pekerjaan di sana?”

Bukannya menjawab mau atau tidak, saya balik bertanya, “Di mana itu Desa Rinding Allo? Nama itu terdengar asing di telinga.”

Saya cari di mbah Google, muncul beberapa tulisan dan foto soal desa di Sulawesi Selatan ini. Negeri di atas awan. Begitu kata beberapa tulisan yang saya temukan. Ah… sudah banyak tempat wisata yang memakai nama jual ‘negeri di atas awan’, macam apa lagi ini Rinding Allo yang akan saya datangi, tanya saya dalam hati.

Dari Jakarta, bersama dua orang kawan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), kami terbang ke Makassar. Pukul 7 malam di Bandara Hasanuddin, kami menunggu seorang teman lagi, yaitu Mas Dasirun, seorang guide wisata handal asal Jogja.

Dari Makassar perjalanan dilanjutkan dengan bus malam selama 9 jam menuju Masamba, kota Kabupaten Luwu Utara. Oh ya, sebelum bus tiba jam 9 malam, kami menikmati dulu Coto Makassar di sebuah warung di Jalan Poros Makassar. Gak klop dong kalau ke kota ini tanpa menikmati Coto.

Cukup nyaman naik bus malam dari Makassar ke Masamba. Sama juga dengan bus-bus ke berbagai kota lainnya, seperti Rantepao Toraja, ke Palopo, atau sampai ke Palu. Dengan ongkos 150 ribu hingga 200 ribu, sudah dapat bus AC dengan kursi yang bisa diselonjorkan. Lengkap dengan bantal dan selimut. Hanya saja malam itu kami kebagian kursi di depan, jadinya agak deg-degan juga menyaksikan aksi sang supir yang salip kiri salip kanan di sepanjang perjalanan.

Di Masamba kami harus mengikuti sebuah acara yang menjadi bagian dari pekerjaan yang saya sebutkan di awal cerita ini. Barulah dua hari kemudian kami bergerak ke Desa Rinding Allo yang dimaksud. Tiga jam dengan sepeda motor bikin pantat pegal, kehujanan di tengah jalan, ban motor selip di lumpur, lengkap sudah menjadi bukti omongan kawan-kawan sebelumnya soal petualangan yang akan dilalui dalam perjalanan.

Pada beberapa titik kami berhenti untuk istirahat. Ada sedikit hiburan psikologis bagi mata yang memandang keindahan alam Tana Luwu ini. Hamparan sawah terasering, kabut tipis menyelimuti punggung bukit, air terjun di kejauhan, damai rasanya.

Budaya Pertanian Desa Dinding Matahari
Akhirnya sore hari kami tiba di Desa Rinding Allo, desa yang berupa cekungan mangkuk lembah pegunungan. Masih dibasahi gerimis, beberapa orang berkumpul di pinggir tebing menghadap kejauhan. Di dalam cekungan mangkuk itu adalah dusun-dusun, rumah penduduk dan sawah yang siap ditanami. Tapi sebentar saja pemandangan itu hilang. Kabut tebal menutupinya.

rinding-allo5Kami masuk ke rumah kepala desa yang posisinya di ketinggian. Terdengar ucapan Papongoran Salong, pria 60-an tahun, Kepala Desa Rinding Allo, “Lihat itu, kabutnya bergeser lagi, terbuka lagi pemandangan,” ujarnya.

Padahal baru 5 menit lalu kabut tebal datang. “Inilah Rinding Allo. Sampai ada yang menyebut ini negeri yang sering menghilang. Sebentar tertutup kabut, sebentar lagi terbuka, lengah sebentar, hilang lagi dia,” katanya sambil tertawa dan menyambut kami.

Desa Rinding Allo ada di wilayah Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Ia adalah bagian dari komunitas adat Rongkong, yang erat hubungannya dengan Kerajaan Luwu di masa lalu. Leluhur Orang Rongkong masih bersaudara sepupu dengan Sawerigading, bangsawan Luwu. Rinding Allo sendiri berarti Dinding Matahari.

“Saat matahari terbit, dia muncul dari balik Gunung Tabuan dan cahayanya menyinari punggung bukit di barat. Sebaliknya saat matahari terbenang, dia akan hilang di balik Gunung Parameang, dan cahayanya menyinari punggung bukit di timur,” kata kepala desa, Papongoran Salong.

Penduduk yang berjumlah 900-an jiwa, mayoritas adalah petani, terutama hasilnya adalah padi. Di selingan waktu mereka mengambil damar di hutan, madu hutan, atau berkebun kopi. Ada juga ternak sapi dan kerbau. Di padang-padang hijau di sela-sela sawah akan terlihat sapi-sapi coklat sedang merumput. Juga kuda.

Tapi kuda bukan untuk ternak. Di masa lalu warga menggunakan kuda untuk mengangkut barang antar desa atau wilayah saat melakukan barter barang-barang kebutuhan hidup. Orang-orang yang melakukan aktivitas ini disebut Pateke’. Sekarang sudah jarang, karena ada sepeda motor.

Masyarakat Desa Rinding Allo memiliki tradisi dan ritual yang erat dengan pertanian. Kapan mulai menanami sawah, saat padi tumbuh berbuah, dan kapan mulai panen, semua diawali dengan musyawarah dan doa ritual. Setelah panen selesai antara bulan Mei hingga Juli, akan ada pesta Mabua. Pesta syukur di mana warga akan memakan hasil panen pertama. Acara akan digelar, penuh tarian dan kesenian, musik dari gendang dan alat tiup bambu.

Ada hukum adat sejak jaman leluhur yang masih terus rinding-allo1dipegang, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Hukum adat ini membentuk suatu istilah di masyarakat Rinding Allo, dan Rongkong umumnya, yaitu Tana Masakke, Lipu Maraninding. Artinya negeri yang sejuk, damai dan tentram dilindungi hukum adat yang pamali untuk dilanggar.

Tidak boleh ada perkelahian atau tindak kekerasan, tidak boleh ada dendam, perdamaian akan diutamakan, tidak ada judi dan tidak ada pencurian. Ada sangsi tentunya untuk pelanggar hukum atau sumpah adat. Yang biasanya terjadi hukuman itu berupa ‘kutukan’, yaitu siapa yang melanggar hukum adat akan kesulitan dalam pertaniannya.

“Sampai tujuh turunan pun padinya tidak akan tumbuh, kalau orang itu melanggar sumpah adat dan belum dibebaskan dari hukumannya,” kata Kepala Desa Rinding Allo.

Tak terasa pisang goreng yang menemani obrolan santai kami sudah habis. Sesekali kepala desa menunjuk lampu-lampu dusun di kejauhan, yang kadang terlihat, kadang hilang dalam gelap.

“Negeri yang sering hilang, ya,” katanya sambil tertawa.

Obrolan kami akhiri saat udara sudah semakin dingin, dan kami teringat masih banyak yang harus dilakukan keesokan harinya.

Membangun Desa Rinding Allo
Kue klepon, kopi dan teh meluncur ke meja di balkon tempat kami berbincang semalam. Kami menikmati suasana matahari terbit dari balkon itu. Perlahan-lahan cahaya matahari membuat cekungan mangkuk lembah desa ini tampak terlihat. Pegunungan hijau terasa dekat.

Hari ini kami akan bergerak ke Dusun Salurante. Dari dusun inilah jarak terdekat jika ingin masuk ke wilayah hutan damar. Menurut penuturan warga, di area hutan damar ini sering terlihat anoa dan tarsius. Dua hewan endemik ini hanya ada di Indonesia, di Sulawesi, dan di wilayah Rongkong ini. Anoa adalah kerbau kerdil. Sementara tarsius adalah jenis primata terkecil di dunia, dengan mata belok bulat.

Dari Dusun Salurante juga merupakan jalur trekking menuju beberapa titik air terjun dan Goa Batu Banua yang terletak di pinggir sungai. Namun jalur masuk hutan itu masih perawan. Dua orang warga yang mengantar kami masuk ke hutan harus menebas ranting dan dahan untuk membuka jalur. Juga dari Dusun Salurante ada jalur menuju turbin PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro). Dari turbin inilah listrik menerangi Desa Rinding Allo.

Di dusun ini ada kelompok perempuan penenun kain Rongkong. Sudah tidak rinding-allo7banyak sebenarnya yang masih mengerjakan tenunan, namun yang tersisa masih memakai bahan dan cara tradisional untuk membuat kain itu. Khusus soal ini nanti saya ceritakan di lain waktu.

Jadi sebenarnya saya ngapain ya di Desa Rinding Allo? Nah, pekerjaan yang saya sebut di bagian awal cerita ini adalah membantu Desa Rinding Allo yang akan dikembangkan menjadi Desa Wisata. Tentu saja wisata berbasis masyarakat, yang kental dengan adat budayanya, dan kearifan lokalnya terhadap kelestarian alam.

Masyarakat Adat Osing, Menjaga Tradisi bukan Menjual Tradisi

Posted By : adm-adat/ 83 0

“Kalau kami mempraktikkan tradisi dan kesenian hanya karena dorongan pariwisata, itu namanya kami menjual adat. Itu tidak kami lakukan”

Banyuwangi, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa semakin gencar membangun sektor pariwisata. Berbagai kegiatan dan promosi dilakukan, didukung oleh keindahan alam di sekitarnya. Salah satu yang sudah dilirik oleh pengunjung adalah Desa Adat Kemiren. Di desa ini tinggal masyarakat adat Osing yang terus menjaga berbagai tradisi Jawa Kuno.

Orang Osing, begitu mereka disebut, tidak bisa disebut sebagai suku Jawa. Sama dengan orang Sunda di belahan barat Jawa. Sejarah masyarakat adat Osing kental dengan Majapahit. Mereka adalah orang-orang Majapahit di masa-masa keruntuhannya yang mengungsi ke berbagai daerah. Di wilayah Blambangan ini kemudian berdiri Kerajaan Blambangan, sebagai kerajaan terakhir Hindu di Jawa.

Untuk mendapat gambaran yang jelas mengenai adat istiadat, budaya dan tradisi masyarakat adat Osing dibangun sebuah sanggar yaitu Sanggar Ganjah Arum. Sanggar ini menjadi bukti pelestarian budaya Osing yang dikemas apik dengan nuansa tradisional. Di sanggar ini terdapat rumah-rumah tradisional dengan berbagai ornamen kuno yang dijaga. Batu fosil, penumbuk padi, alat musik angklung disimpang di sana.

Masyarakat Osing mewariskan banyak kesenian tradisional, seperti tari Gandrung, tari Seblang, upacara selamatan dan sebagainya. Pelestarian tradisi dan budaya ini bukan semata karena didorong oleh pembangunan sektor pariwisata.

Suatu kali, kami bertemu dengan salah seorang tokoh dan penggiat wisata Osing bernama Adi Purwadi. Menurutnya, hal-hal yang bersifat tradisi dan adat di Osing terus dijaga dan dipraktikkan karena itulah warisan kekayaan yang mereka punya.

“Kalau kami mempraktikkan tradisi dan kesenian hanya karena dorongan pariwisata, itu namanya kami menjual adat. Itu tidak kami lakukan”, begitu tegas lelaki paruh baya ini.

Kalau sudah bercerita tentang adat dan tradisi budaya masyarakat Osing, Adi Purwadi selalu bersemangat. Ia mengakui, wisata adat di Osing semakin dikenal banyak orang karena letak geografis yang menguntungkan. Bertetangga dengan Bali, yang sudah menjadi sentra pariwisata Indonesia, hanya butuh menyebrang laut setengah jam lalu jalan darat dari Kota Banyuwangi. Di sebelah Barat ada Kawah Ijen yang juga menjadi destinasi wisata.

Adi Purwadi menambahkan, kalaupun kemudian pariwisata berkembang karena aspek tradisi Osing yang terjaga, itu adalah semacam bonus aja. Bonus dalam artian ada manfaat ekonomi yang turut dirasakan masyarakat dari aktivitas pariwisata.

“Namun keseharian kami tetap seperti apa adanya. Sebagian besar petani, ada yang beternak, ada yang menjadi guru atau bekerja di pemerintahan’, tuturnya.

 

Forest is our mother

Posted By : adm-adat/ 82 0

Money is always tempting. It makes people gave up their anything in life, just for the sake of it. But not for Dayak Iban indigenous community Sui Utik. Money isn’t how they measure life, but forest is everything to them.

They belief forest is like a mother feeding her children and gives air to breathe. It becomes the source of food and medicines. The Sui Utik’s customary forest covering almost 10 thousand hectares is unfortunately just less of a tropical rain forest left in Borneo Island.

“We are here designing welfare together. If our forest is well and protected, then everything can be sustain. We become one to respect our nature and its river”, said Apay Janggut, leader of the indigenous community of Sui Utik.

Hereditary speaking, the people of Sui Utik has been practicing the management system for their forest by taking into account the type of trees planted, the planting time itself, and not to cut all their forests down. Using this system, forest is managed accordingly to the discernment and custom rules.

As an example, before clearing a land to be used for farming, they always leave behind a number of trees to remain alive. This is also the reason why the forests of Sui Utik have a diverse food source plants, medicines, building materials and also producing commercial commodities such as rubber and tengkawang.

The effort to keep the forest comes with constant threats from everywhere. Repeatedly, there were parties who came to take over the land of Sui Utik. The head of the village, Raymundus Remang said lot of companies trying to take over the forest area to switch them into palm oil plantations or a timber industry.

“It’s amazing, that they come from everywhere, whether it’s  just someone very rich, or the palm oil companies from Indonesia and Malaysia or just simply a timber industry”, Remang said.

They come to us, persuading us, luring us with a job, helping with electricity or clean water, and even bribing us with money in hope that we will fall for it and willing to sell our land. But all we’re giving them is nothing but rejection.

“I can be rich by now if I want to, but we will not sell our forests just for the sake of getting money.  It’s not the way we do it”, he then added.

Tall trees inside the forest (photo: Simon Pabaras)

In the customary rules, the community divided the forest regions of Sui Utik and their residential location in multiple categories. There is an area completely prohibited, not to be opened for farming or gardening, and the woods should not be taken. The area is called Kampung Taroh.

Then there is Kampung Galao, an area of forest reserves for the people to take medicinal plants, firewood, and canoe maker wood. All of these are monitored closely under supervision. Also there is another area that is managed with the principles of justice and preservation according to local custom rules.  Area of cultivating rubber and other non-timber products is available too. Last but not least is the area where they built a large and long house as well as a few small houses and public facilities. This can be called as the residential area.

There are almost 300 people living inside the long house, called Rumah Betang.  A tilted house made of woods with its length of 216 meters, having people living inside it together since the 1970s, which also the last year when they moved to the current location. Dayak Iban is indeed a society hereditary living nomadic lifestyle.

A traditional hunter in the forest. (photo: Simon Pabaras)

Mostly the people work in the farm or go hunting. Men and young people are working on this particular task, while the women or inay-inay do the weaving Sui Utik’s unique fabric as well as weaving mats, baskets, and also kitchen utensils made out of plants taken from the forest. Everything these people need comes from forests that are there to support their life.

 

By: Simon Pabaras