Perjumpaan Pertama Dengan Orang Rimba

Posted By : Ali Syamsul/ 140 0

Aktivitas Orang RImba adalah berburu, meramu, dan mengumpulkan hasil hutan. Mereka meletakkan begitu saja hasil pekerjaan mereka itu di pinggir jalan. Tidak akan ada yang hilang atau rusak. Ini menegaskan bagaimana mereka memegang teguh nilai-nilai adat dan menerapkannya untuk menjaga interaksi sosial. Aturan adat yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kepercayaan yang telah menjadi panduan kehidupan mereka sehari-hari.

Hidup adalah perjalanan, maka tapakilah. Dunia ini luas, maka arungilah.

Hari itu, 3 November 2015, telepon berbunyi dari seorang kawan, “Apakah saya punya waktu untuk ikut pelatihan dokumentasi?” Saya menjawab, “Iya mudah-mudahan ada waktu untuk itu.” Namanya Sandi. Ia kemudian memberikan petunjuk untuk keikutsertaan saya dalam kegiatan tersebut. Syaratnya adalah saya harus menyerahkan tulisan tentang komunitas adat.

Saya pun mengikuti aktivitas yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) itu, di mana kemudian saya mendapatkan banyak pembelajaran sebagai bekal. Sebelum saya bergabung dalam pelatihan itu, saya terdorong untuk pulang kampung, kembali ke komunitas saya di Desa Tongko, Kecamatan Baroko.

Di sana saya menemui tokoh adat untuk menggali bahan tulisan sebagai bentuk kesungguhan saya untuk ikut dalam pelatihan dan live in di sebuah komunitas adat yang kelak akan ditentukan. Dengan tekat dan semangat, saya berhasil menyelesaikan empat halaman tulisan dalam waktu relatif singkat, sekitar dua jam.

Satu minggu lamanya pelatihan di Bogor bersama 15 pemudapemudi adat dari berbagai penjuru nusantara. Dari seluruh peserta pelatihan, panitia menugaskan enam orang untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat di tiga tempat. Sedangkan yang lainnya tetap menulis di komunitas masing-masing.

Saya bersama dengan seorang kawan bernama Katharina berkesempatan melakukan pendokumentasian di masyarakat adat suku Anak Rimba di Jambi. Sungguh menarik karena dengan pola penugasan seperti itu kami sama sekali belum tahu tentang masyarakat adat yang akan menjadi tempat live in, sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang komunitas itu bermunculan dalam pikiran.

Pada kesempatan itu, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan yang akrab kami sapa Bang Abdon, berkata, Jangan percaya dengan apa yang dikatakan orang, tapi lihat dan rasakanlah sendiri! Kalimat yang terus terngiang di benak saya.

Sebelum keberangkatan, saya rajin mencari informasi tentang suku Anak Rimba dari orang-orang. Dengan cerita-cerita awal yang saya dapat, keingintahuan yang begitu besar muncul dan mendorong rasa penasaran serta semangat baru untuk melihat dan merasakan langsung seperti apa dan bagaimana berinteraksi dengan mereka.

Penerbangan ke Jambi hanya memakan waktu satu jam. Dari Bandara Sultan Thaha, kami diantar oleh Dini menuju ke rumah pengurus wilayah AMAN Jambi Datuk Usman Gumanti. Di rumahnya juga hadir Bang Heru selaku Ketua BPAN Jambi. Persinggahan yang tidak begitu lama di rumah Datuk Usman, saya manfaatkan untuk mendapatkan informasi lagi mengenai suku Anak Rimba. Datuk banyak menyebut nama-nama Orang Rimba yang menjadi karibnya.

Keesokan paginya, saya bersama dengan Bang Heru Pau menuju Kabupaten Sarolangun. Persis tengah hari kami sampai di Pau, tak langsung ke lokasi tempat suku Anak Rimba. Kami beristrahat sejenak di rumah Dini karena dia menjanjikan akan menyuguhkan makanan khas Jambi, tempoyak. Terbuat dari durian yang diasamkan lalu dicampur dengan daging ikan patin.

Jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ujung Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Sesampai di Simpang Pau, kami melanjutkan perjalanan dengan ojek ke Air Hitam selama dua jam. Sesampainya di lokasi kami sudah ditunggu oleh Jenang di depan kantor Dinas Kehutanan. Menurutnya setiap orang yang ingin masuk ke wilayah pengembaraan Suku Anak Rimba – sekarang menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas harus minta izin kepada pihak Dinas Kehutanan.

Jenang meminta kepada anak muda yang bersamanya menjemput kami agar ke aula pertemuan. Sebuah bangunan gedung sebagaimana layaknya aula pada umumnya. Namun ceritanya sangat berbeda jika itu adalah aula milik Orang Rimba yang beratap dan tidak berdinding. Lantainya penuh dengan lumpur yang telah mengering dengan debu dan dedaunan yang juga kering.

Kalian istrahat dan tidur dulu di sini karena malam ini tidak bisa masuk hutan,” ujar Jenang.

Saya sungguh kaget dan ingin menangis. Tikar tidak ada, lantai tanah, gelap gulita, nyamuk pun banyak. Kembali saya berpikir kalau di tempat ini kita harus istrahat dan tidur dengan kondisi yang begitu buruk, lalu bagaimana nantinya jika sudah berada dalam hutan. Untunglah anak muda yang mengantar kami mencarikan tikar pinjaman untuk dijadikan alas tidur malam itu.

Jumat, 27 November 2015, tepatnya jam setengah dua malam, kami diantar Tumenggung Betaring masuk Hutan. Satu jam lebih kami berjalan kaki menyusuri hutan hingga tiba di tempat kelompok Tumenggung membuat rumah untuk tempat tinggal sementara. Mereka menyebut rumah dengan detano.

Empat hari saya jalani hidup dalam hutan bersama Tumenggung. Setiap malam saya manfaatkan waktu untuk diskusi dengannya mengenai kehidupan mereka, tentang sejarah asal-usul, tata kelola wilayah, aturan hidup, perekonomian, serta berbagai ritual. Siang harinya kami lalui dengan aktifitas berjalan menyusuri hutan dan berjumpa dengan kelompok Orang Rimba lain, sambil bercerita tentang bagaimana mereka menjalin hubungan tak terpisahkan dengan hutan dan alam.

Selama tinggal di sana, menyusuri hutan dan bertemu dengan Orang Rimba, saya menyaksikan sendiri aktivitas kehidupan mereka. Berburu, meramu, dan mengumpulkan hasil hutan. Mereka meletakkan hasil pekerjaan mereka itu di pinggir jalan begitu saja. Tidak ada yang hilang atau rusak.

Ini menegaskan bagaimana mereka memegang teguh nilai-nilai adat dan menerapkannya dalam kehidupan untuk menjaga interaksi sosial tetap kuat. Aturan adat yang menjunjung tinggi nilai moral, seperti kejujuran dan kepercayaan, yang telah menjadi panduan kehidupan mereka sehari-hari.

Manusia tidak akan mengerti arti kenyamanan jika tidak pernah merasakan kesusahan. Dengan mencicipi kehidupan rimba, afirmasi dari kalimat yang sempat dilontarkan Bang Abdon itu semakin terasa dan punya makna.

Saya menyadari kedewasaan ditempa bukan karena bebasnya kita dari persoalan hidup, tetapi dari banyaknya persoalan yang kita hadapi. Kehidupan yang saya nikmati sesaat di alam bebas Hutan Bukit Duabelas sudah pasti berbeda.

Ketika saya berada dalam pergaulan masyarakat umum yang relatif modern dan mapan dengan segala hal yang gemerlap, kemudian ada yang berubah saat saya merasakan kehidupan yang berbeda dengan tidur di hutan. Tidur bernaung tenda tanpa dinding yang menahan dinginnya angin malam. Rajin mendonorkan darah untuk nyamuk.

Pada perjalanan ini saya menjalin persahabatan dengan sesama dan alam. Saya mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan untuk belajar dan memperkaya makna kehidupan. Sebuah refleksi yang hadir tentang kehidupan di dalam rimba.

Oleh Ali Syamsul

Penghormatan untuk perempuan adat Nuaulu

Posted By : adm-adat/ 195 0

Ada tradisi unik di masyarakat adat Nuaulu di Pulau Seram, Maluku, terhadap kaum perempuan yang sedang menstruasi pertama atau baru saja menjalani persalinan. Mereka akan diperlakukan istimewa, dibebaskan dari pekerjaan dan kesibukan rutin. Sebuah rumah pondok disiapkan khusus bagi mereka untuk beristirahat. Tradisi yang sudah dilakukan sejak jaman nenek moyang ini merupakan bentuk penghormatan terhadap posisi perempuan adat Nuaulu.

Pinamou adalah panggilan bagi perempuan yang menjalani ritual pendewasaan saat haid pertama kali datang. Sementara kaum perempuan yang akan atau baru saja menjalani persalinan disebut dengan makasusue. Mereka akan ditempatkan di Possune atau rumah pondok yang berada di belakang rumah penduduk.

Possune itu hanya terdiri dari satu ruangan, dengan atap daun aren yang dirajut satu per satu. Kerangka atap terbuat dari bamboo dan pondasi diikat dengan rotan. Bisa dalam suatu waktu ada lebih dari 5 perempuan Pinamou yang tinggal di Possune itu. Tentunya tergantung pada ukuran pondok tersebut.

Khusus bagi para Pinamou, mereka akan menjalani ritual numaonate, yaitu prosesi pemberian tanda kedewasaan. Mereka diwajibkan memakai selembar kain sarung. Seluruh tubuhnya akan dibaluri bubuk hitam yang ditumbuk dari kayu khusus, kecuali bagian yang tertutup kain dari lutut kaki hingga dada. Keesokan harinya tubuh akan dibersihkan dan perempuan itu boleh kembali ke rumah orangtuanya.

Prosesi ritual numaonate di masyarakat adat Nuaulu
Prosesi ritual numaonate di masyarakat adat Nuaulu

 

Tradisi Pernikahan Nuaulu

Masyarakat adat Nuaulu juga memiliki keunikan dalam prosesi perkawinan dibandingkan daerah lain di Pulau Seram, Maluku Tengah. Ausahaso adalah kata yang merujuk pada perkawinan dalam bahasa Nuaulu. Perkawinan hanya dilakukan sekali seumur hidup. Mereka percaya bahwa perkawinan bukan semata ikatan melainkan untuk menjaga kehormatan peradaban hidup dalam satu keluarga dan kampung.

Sebelum pernikahan diresmikan, keluarga calon penganti laki-laki akan menunjuk manorisou atau perantara yang ditugaskan untuk mengurus penetapan harta atau mas kawin (mahar). Pihak perempuan juga menunjuk manorisou mereka, sehingga terjadilah pertemuan antar kedua perantara ini.

Setelah pertemuan itu, manorisou pihak perempuan akan bergegas pergi ke rumah keluarga perempuan untuk memberitahukan lamaran yang diajukan beserta maharnya. Jika calon mempelai perempuan setuju maka akan ditetapkan hari untuk berkumpul di rumah adat marga keluarga perempuan.

Mas kawin atau mahar dalam pernikahan Nuaulu disebut sebagai hanainnasinae, yaitu piring adat yang ditentukan oleh pihak perempuan dan bisa dikalkulasikan dengan sejumlah uang. Setelah jumlah permintaan harta ditentukan, selanjutnya ditetapkan hari kumpul bermusyawarah di baileu calon pengantin lelaki.

Di sanalah terjadi kesepakatan timbal balik harta mas kawin yang diinginkan pihak laki-laki kepada perempuan, maupun mas kawin yang diinginkan perempuan kepada pihak laki-laki. Hunonin adalah penetapan mahar dalam bahasa Nuaulu. Setelah hunonin selesai, maka ditetapkanlah hari pernikahan yang tidak boleh lebih dari satu bulan sejak musyawarah dilakukan.

Tradisi pernikahan yang terkesan rumit ini sesungguhnya juga menunjukan tingginya posisi perempuan dalam masyarakat adat Nuaulu.

Oleh: Syahadatul Khaira

Ritual Malam Satu Suro Masyarakat Adat Betetulak

Posted By : adm-adat/ 123 0

Masyarakat adat Betetulak di Lombok, NTB memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram dengan ritual adat yang panjang. Tidak hanya satu hari saja selayaknya perayaan umum oleh masyarakat Muslim. Bentuk kearifan lokal masyarakat adat Betetulak Agung itu berlangsung selama empat hari berturut-turut.

Islam yang dibawa masuk ke Lombok oleh Sunan Prapen pada masa Kerajaan Selaparang di abad ke-13 dipadukan dengan adat warisan leluhur, menjadikan ritual malam satu suro sebagai warisan budaya di tengah arus modernisasi. Tidak ada yang bertentangan antara ajaran agama dan adat, karena masyarakat Betetulak meyakini nilai warisan adatnya adalah bagian dari proses kehidupan seorang manusia terhadap Pencipta, terhadap leluhur, dan terhadap sesama manusia dan mahluk lainnya.

Yang menarik dari empat hari pelaksanaan ritual Satu Suro adalah sajian hidangan tradisional. Di hari pertama ada bubur pute’ (bubur putih) dan bubur abang (bubur merah). Bubur pute’ melambangkan ayah dan bubur abang melambangkan ibu. Sebuah hidangan yang melambangkan asal usul manusia yang dimulai dari sebuah persatuan laki-laki dan perempuan.

Lalu di hari kedua ritual akan dihidangkan serabi bekerem, sajian kue yang memiliki arti janin atau asal mula kehidupan. Hari ketiga dihidangkan ketupat dengan perpaduan ukuran besar dan kecil. Hidangan yang bermakna ungkapan rasa syukur manusia atas apa yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Di hari keempat dihidangkan nasi dan lauk pauknya. Namun tidak dibolehkan menyajikan lauk yang berasal dari makhluk hidup atau binatang. Maknanya adalah pengembalian diri dan pembersihan hati agar hidup tidak bermewah dan apa adanya.

Selain sajian makanan, dalam ritual tersebut juga wajib adanya daun beringin yang memberi lambang pengayoman masyarakat oleh pemimpinnya, baik itu tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ada juga air rampe yang digunakan untuk mencuci muka. Lekesan siwa sebagai simbol dari anggota tubuh yang mempunyai sembilan lubang. Kemudian air mawot yaitu air yang sudah didoakan selama beberapa malam.

Dalam rangkaian ritual ini juga dilakukan acara mengelilingi desa atau pengelinderan azimat desa yang dilakukan tepat jam 12 tengah malam.

 

Benda-Benda Pusaka

Seperti juga di banyak daerah lainnya, malam Satu Suro adalah momen untuk membersihkan benda-benda pusaka. Para juru kunci ritual yang konon masih garis keturunan Kerajaan Selaparang, akan duduk melingkar di berugak (semacam pendopo), dan di tengah-tengah mereka ada benda-benda sakral berupa keris, pedang, kendi dan sebuah kotak dibungkus kain putih, lengkap dengan kembang beberapa rupa.

Mahzar adalah salah seorang tetua adat yang memimpin ritual itu.  Ia keturunan dari TGH Abdul Hadi, putra H. Muhammad Solihin yang ikut perang melawan Belanda. Benda-benda pusaka yang dibersihkan dalam ritual tersebut adalah benda-benda peninggalan Kerajaan Selaparang yang digunakan dalam perlawanan melawan penjajah.

Mahzar memimpin penyimpanan kembali benda-benda pusaka itu dalam sebuah gedeng atau gubuk berukuran 4 x 4 meter dengan tinggi sekitar 5 meter. Masyarakat menyebutnya sebagai salah satu situs sejarah yang tersisa dan terjaga dengan baik, dari awalnya tiga gedeng yang pernah ada di Wilayah Rembiga Timur.

Benda-benda pusaka itulah yang setiap malam Satu Suro, pada malam kedua, ketiga dan keempat, dikeluarkan, dibersihkan dan dan diarak keliling kampung. Arak-arakan dilakukan pada tengah malam karena dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menolak bala atau disebut mereka dengan betetulak. Sebenarnya, arak-arakan benda pusaka ini digelar dua kali setiap tahun, saat Muharram dan di Bulan Januari.

Arak-arakan benda pusaka itu tidak lepas dari berbagai kejadian yang kemudian dianggap mistik. Setiap ritual berlangsung melalui jalan-jalan utama selalu jatuh korban jiwa tak jauh dari iring-iringan ritual.

“Kami sendiri heran dan menganggap itu mustahil ada kaitan dengan ritual ini, tapi setiap ritual dilakukan selalu saja ada kecelakaan,” kata Mahzar, salah seorang tetua adat.

Terlepas dari itu, para tokoh adat dan tokoh masyarkat sepakat untuk melestarikan ritual tersebut. Benda-benda pusaka itu dan gedeng (gubuk) penyimpanannya akan dipatenkan menjadi sebuah situs bersejarah.

“Pelestarian ritual ini untuk mengingatkan kepada generasi muda Betetulak dan masyarakat umum supaya tidak lupa pada sejarah mereka dan penghormatan pada leluhur”, kata Mahzar.

Oleh: Syahadatul Khaira

Wujud syukur masyarakat adat Wologai dalam ritual Po’o

Posted By : adm-adat/ 225 0

Masyarakat adat Wologai di Flores mengenal ritual Po’o yang menjadi tradisi tahunan masyarakat saat akan memulai kegiatan pertanian. Po’o dalam bahasa keseharian daerah Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, dapat diartikan sebagai celengan untuk menabung yang terbuat dari ruas bambu. Po’o adalah media untuk memperingati tradisi kehidupan para leluhur, menyantap makanan dengan perabot makanannya yang terbuat dari ruas bambu.

Masyarakat adat tidak pernah lepas dari ritual, sebagai bentuk pernghormatan terhadap tradisi dari para leluhur dan berkah dari alam semesta. Masyarakat adat Wologai di Flores mengenal ritual Po’o yang menjadi tradisi tahunan masyarakat saat akan memulai kegiatan pertanian.

Po’o dalam bahasa keseharian daerah Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, dapat diartikan sebagai celengan untuk menabung yang terbuat dari ruas bambu. Po’o adalah media untuk memperingati tradisi kehidupan para leluhur, menyantap makanan dengan perabot makanannya yang terbuat dari ruas bambu.

Mulai dari Po,o Are (memasak nasi dengan menggunakan ruas bambu) sampai Po’o Uta (memasak sayur dengan menggunakan ruas bambu). Misalnya dalam Po’o Are, ruas bambu diisi dengan beras dan air kemudian dibakar hingga matang. Setelah matang langsung siap disajikan, dengan terlebih dahulu dibagikan secara merata kepada seluruh fai waku ana kalo (anggota masyarakat adat).

“Ritual Po,o adalah sesajian kepada leluhur agar kerja-kerja anggota komunitas dalam bertani dan bercocok tanam akan berhasil dan mendapatkan kekuatan untuk mengusir hama sawah,” kata Petrus Manggu seorang mosalaki atau tokoh adat Wologai.

Tradisi ini menjadi kekuatan roh tersendiri bagi masyarakat adat Wologai, dengan meminta pemberkatan dari leluhur yang telah memberikan jalan, petunjuk, serta penghasilan alam bagi kehidupan masyarakat.

Ritual Po’o juga menjadi momen saling bertukar informasi, cerita dan aturan-aturan adat, pengamanan tapal batas kebun, aturan hukum adat terkait dengan proses pengolahan lahan dan pengelolaan hasil produksi. Seperti pengelolahan hasil kerja kebun dan menyampaikan pola pembangunan yang ada di komunitas.

Selain urusan adat, tokoh adat atau mosalaki juga bisa menyampaikan himbauan untuk terus saling menjaga pengertian dan komunikasi sosial di antara masyarakat dalam ikatan hubungan tali persaudaraan.

Seorang tokoh adat lainnya Wilhelmus Weto bercerita, masyarakat adat Wologai dalam sejarah keberadaanya bisa dikatakan sebagai manusia yang hidup jauh sebelum Indonesia lahir. Namun masyarakat tetap menjaga kuat budayanya, mempertahankan sejarah dan keturunan, serta riwayat perjuangan leluhur dalam mempertahankan tanah.

“Melaksanakan adat tidak boleh main-main dan menganggapnya sebagai lelucon. Urusan adat adalah urusan yang berhubungan dengan jiwa dan hidup manusia di wilayah itu,” kata Wilhelmus.

Tanah Wologai adalah tanah sakral yang di dalamnya mengandung unsur mistik. Percaya atau tidak, ketika perbuatan manusia semena-mena dengan alam dan tanah adat, maka akan membahayakan jiwa manusia itu sendiri.

“Sering kali manusia dengan perkembangan teknologi mengabaikan hal-hal yang berhubungan dengan keutuhan ciptaan Tuhan dan para pendahulu. Di Wologai, warisan tanah saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang dan memakan korban yang cukup banyak,” lanjut Wilhemus.

Tanah adalah Ibu yang memberikan penghidupan seluruh umat manusia. Jika tanah itu tidak dijaga dan dirawat, sesunggunya manusia itu telah mencelakakan dirinya dan sesamanya. Itulah yang dipegung teguh oleh masyarakat adat Wologai.
Oleh: Yulius Fanus Mari

 

Hikayat Pohon Kemenyan, Cerita Rakyat Dari Tanah Batak

Posted By : Jeffar Lumban Gaol/ 2753 0

Dahulu kala ada seorang gadis cantik jelita berambut panjang terurai, namun hidup miskin bersama orang tuanya di pinggiran hutan yang jauh dari onnan (pasar). Pada mulanya hidup mereka tenang dan tentram, sampai datangnya seorang saudagar menagih hutang pada keluarga petani miskin tersebut. Petani itu berjanji akan segera melunasi hutangnya pada hari onnan pekan depan.

Saudagar itu pun tak bisa berbuat apa-apa, sebab tak ada harta yang bisa disita dari si petani. Dia marah dan mengancam akan menghabisi nyawa si petani jika tak segera melunasi hutangnya, barulah penagih hutang itu pergi. Mendengar ucapan dan amarah saudagar yang mengancam nyawa amongnya, gadis cantik belia putri pak tani sedih bukan kepalang. Tak tahu dia bagaimana cara menolong amongnya lunasi hutang tersebut.

Pada saat hari pekan tiba, saudagar kejam sudah menunggu si petani di onan pasar, namun karena yang ditunggu tak juga muncul. Akhirnya saudagar kehilangan kesabaran dan bergegas menuju rumah petani. Dari jauh petani sudah melihat kedatangan saudagar yang marah karena dia belum bisa bayar hutang. Dan untuk gantinya, saudagar ingin mengawini putri petani yang cantik itu.

Namun melihat gelagat kurang baik, tanpa pikir panjang lagi, pak petani menarik tangan anak gadisnya dan berlari sembunyi masuk hutan belantara. Mereka baru kembali ke rumah, setelah penagih hutang itu pulang.

Kejadian serupa berulang kali terjadi, yang pada akhirnya membuat gadis cantik berambut panjang tersebut tak tahan lagi melihat penderitaan bapaknya yang tak berdaya. Diapun mengutarakan niatnya untuk pergi ke hutan seorang diri demi mencari hasil hutan yang bisa dijual.

“Among (Bapak), ijinkanlah aku pergi ke hutan sendiri mencari hasil hutan, biar bisa kita bayar hutang among itu,” kata si gadis terisak-isak.

Mendengar itu, pak petani tak tega membiarkan putrinya sendirian masuk hutan dan dia mau ikut.

“Jangan among, karena tadi malam aku mimpi dan dalam mimpiku ku lihat ada sebatang pohon yang dapat menolong kita membayar hutang bapak,” ungkap anak gadisnya lembut.

“Tapi, aku hanya bisa menemukan pohon itu jika aku datang sendirian. Bila ada orang menemaniku masuk hutan meskipun cuma seorang saja, aku tak kan bisa menemukannya. Begitulah pesan orang tua dalam mimpiku,” papar si gadis lebih lanjut.

Beberapa saat pak petani diam terpaku sambil menimbang apakah dia mengabulkan permohonannya. Sambil menarik nafas panjang barulah dia mulai bicara.

“Boruku (gadis), jika memang itu keputusanmu dan pesan lewat mimpimu juga tak mengijinkan aku ikut, baiklah, pergilah nak. Kau harus hati-hati, karena banyak binatang buas di sana. Tapi jika aku lama menunggu dan kau tak juga pulang, aku akan mencarimu masuk hutan,” jawab pak petani.

“Baiklah among, akan kuingat pesanmu tadi. Aku harus segera berangkat sebelum saudagar itu datang,” kata anak gadis itu sambil pamit melangkah memasuki hutan larangan.

Di dalam hutan larangan anak gadis tadi langsung mencari pohon muncul dalam mimpinya ke semua sudut penjuru mata angin. Setelah lama mencari dan tak juga menemukan pohon dimaksud, dia pun ingin istirahat sejenak. Belum lama dia beristirahat, tiba-tiba terdengar suara memanggil-manggil dan suara itu dikenalinya sama dengan suara orang tua dalam mimpinya.

“Kemarilah anakku, mendekat ke sini,” kata suara aneh itu lagi.

Anak gadis itu gemetar dan hampir saja pingsan terkejut dan juga karena tak melihat sosok siapapun di sana.

“Jangan takut cucuku , sebab hanya dengan cara inilah kau dapat menolong orang tuamu membayar hutangnya dan juga akan membawa kemakmuran bagi orang banyak,” kata suara itu lebih lanjut.

Perlahan gadis berambut panjang dan cantik itu mulai bisa mengatasi rasa takutnya. Dengan suara lirih dia mohon tidak diganggu dan menunjukkan di mana letak pohon yang dijanjikan dalam mimpinya tersebut.

“Ompung (kakek) jika kau benar dan tidak bohong padaku tunjukkanlah di mana letak pohon itu?” pintanya dengan penuh harap.

“Hahahahaaa… cucuku, aku sudah tahu maksud kedatanganmu, supaya bisa bayar hutang bapakmu kan?”. Gadis itu mengangguk saja pelan.

“Nah karena ketulusan hati mu, kaulah boru yang terpilih dan bisa menjelma jadi pohon seperti tersirat dalam mimpi mu itu. Hanya dengan cara itulah bisa membayar hutang amongmu,” kata suara tua itu menjelaskan

Manangislah gadis tersebut, tetes air matanya mengalir jernih saat menyadari dirinyalah orang yang dimaksud dalam mimpinya tersebut. Dan mulai saat ini dia tak bisa jumpa lagi among-nya. Dengan alasan cinta pada orang tua dia rela berkorban dan menjelma jadi pohon berambut panjang yang selalu menetes kan air mata.

“Maaf ompung, aku terima jalan apapun yang harus kutempuh, tapi bagaimana menerangkan kejadian ini pada among ku?” tanya si gadis dengan sopan.

“Tabahkan hatimu cucuku, nanti aku beritahu among-mu lewat mimpi persis seperti yang kau alami. Kubimbing dia berziarah ke sini membersihkan tempatmu berpijak di bumi ini, juga membawa itak gurgur sebagai pangannanmu. Ingatlah, jika ada orang datang ke sini nanti, itulah among-mu,” jawab suara tua itu.

Tak lama kemudian gadis tersebut menjelma jadi sebatang pohon yang selalu tangis dan rambutnya tergerai memanjang. Sebagamana halnya pohon haminjon/kemenyan.

Mengembalikan Budaya Tenun Warisan Leluhur Komunitas Adat Bayan

Posted By : Feri Nur/ 174 0

Saat ini, pembuatan kain tenun dari benang yang dipintal langsung dengan bahan dasar kapas, hanya digunakan untuk kain-kain yang dipakai dalam upacara adat tertentu saja. Hal ini terpaksa dilakukan, karena proses pembuatan tenun memang memakan waktu yang cukup lama.

Sementara permintaan pasar kain tenun terus meningkat, sehingga harus tetap berproduksi untuk memenuhi permintaan tersebut. Usaha bersama melalui Kelompok Usaha Petung Bayan, menjadi salah satu solusi untuk menjaga keberlanjutan usaha, dengan tetap memegang kearifan lokal yang diwariskan Leluhur.

“Pemesanan dan permintaan dari pasar kain tenun dapat dipenuhi kelompok, karena tidak hanya satu orang saja yang bekerja, sehingga produksi tetap tersedia di pasar,” tutur Ibu Denda Marni, Ketua Kelompok Petung Bayan.

Sejak tahun 2002 perempuan adat Komunitas Bayan, Kab. Lombok Utara aktif mengerjakan kain tenun untuk dipakai dalam berbagai kegiatan. Baik dalam acara adat maupun pesta. Nama kelompok tenun perempuan adat Bayan adalah kelompok usaha tenun ”Petung Bayan”.

Kelompok ini beranggota 16 orang perempuan adat yang aktif bekerjasama membuat kain tenun. Tujuan dari pembentukkan kelompok tenun Petung Bayan ini antara lain; untuk menjaga kearifan lokal dan melestarikan budaya tenun, yang diwariskan para leluhur untuk bisa diturunkan kepada generasi muda komunitas Bayan.

Selain juga menenun merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan (income generating) komunitas. Pembuatan kain tenun masyarakat adat Bayan dilakukan secara arif.

Setuk Jajak adalah sebutan bagi alat tradisional yang digunakan untuk membuat kain tenun.Tenun berasal dari kata “nyesek”, sebuah proses membuat kapas menjadi benang, baru kemudian benang dijadikan kain.

Dulu pada awalnya kain yang bisa dibuat oleh para penenun perempuan hanyalah kain putih yang dikenal dengan istilah “sasak tembasak jarang”. Kain yang biasa digunakan sebagai alat pembungkus kain kafan pada orang meninggal dan sebagai selimut wali nikah pada waktu ijab kabul pernikahan adat atau mengkawin adat Bayan.

Selain kain sasak tembasak jarang, ada beberapa jenis kain lagi yang diproduksi kelompok tenun Petung Bayan antara lain:

  • Kereng Abang yang bermotif garis dan dominan berwarna merah hati bermakna berani, Rejasa bermotif garis-garis tipis dengan warna hitam melambangkan kekuatan

  • Kereng Poleng motif warna-warni melambangkan keindahan pada perempuan digambarkan seperti bunga ditaman yang berwarna warna- warni

  • Lipaq dengan berbagai macam warna sesuai keinginan dengan motif pucuk rebung yang berbentuk segitiga seperti deretan gunung yang melambangkan Dewi Sri, motif ini mencerminkan pengaruh agama Hindhu dimasyarakat yang mendiami NTB

Dahulu, bahan untuk membuat kain tenun diambil dari hutan (misalnya: kapas dan tumbuhan sebagai bahan pewarna), kemudian diolah secara tradisional untuk bisa menjadikan kain tenun.

Namun saat ini bahan baku benang yang digunakan dibeli dari pasar, karena proses pemintalan kapas menjadi benang sangat jarang dilakukan. Begitu juga dengan pewarnaan, mereka sudah menggunakan pewarna kimia.

Hal ini dilakukan semata-mata karena tuntutan pasar yang pergerakannya sangat dinamis, sehingga proses-proses tenun yang memakan waktu lama mulai ditinggalkan. Kain tenun harus mampu bersaing dengan kain modern atau tekstil, yang telah berproduksi dengan mesin yang berteknologi canggih.

Menenun sebagai pengetahuan tradisional masyarakat adat diwariskan secara turun temurun serta diamanahkan leluhur, juga berhubungan dengan ritual adat lainnya merupakan nilai-nilai yang harus dilestarikan.

Nilai-nilai tersebut kini mulai dibangkitkan lagi oleh kelompok Petung Bayan, dengan penuh kesadaran menjaga kelestariannya dengan menggunakan sumber daya alam dari hutan atau lingkungannya.

Kini mereka kembali memintal kapas untuk dijadikan kain tenun serta menggunakan bahan alami untuk pewarnaan, seperti daun jati, kunyit, tarum daun komaq.

Manige, Cukulilan Pertama Pada Batang Pohon Kemenyan

Posted By : Jeffar Lumban Gaol/ 212 0

Sampai awal tahun 70-an tahun, kemenyan yang dalam bahasa latin ilmiahnya dikenal sebagai Styrax Benzoin, mempunyai makna sakral dalam keyakinan masyarakat adat di Tanah Batak Kabupaten Humbang Hasundutan, Wilayah Adat Marbun.

Sampai awal tahun 70-an tahun, kemenyan yang dalam bahasa latin ilmiahnya dikenal sebagai Styrax Benzoin, mempunyai makna sakral dalam keyakinan masyarakat adat di Tanah Batak Kabupaten Humbang Hasundutan, Wilayah Adat Marbun.

Bagaimana leluhur itu dulunya memperlakukan pohon kemenyan? Dalam kultur petani, kemenyan di Humbang, dikenal satu istilah manige. Magine adalah mencungkil pada batang pohon kemenyan dengan cara unik. Hal itu bertujuan agar batang pohon yang dilukai tadi, dapat memproduksi getah kemenyan yang disebut sidukapi.

Sidukapi adalah getah pertama yang muncul setelah 3 bulan di sige. Dikatakan unik, sebab saat pohon kemenyan mencapai umur antara 10 sampai dengan 15 tahun, atau saat bunga pohon kemenyan sudah mulai berguguran, itulah tanda pohon kemenyan itu sudah layak di sige.

Maninge adalah cukilan pertama pada batang pohon yang akan menghasilkan getah berwarna putih. Getahnya tersebut baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian, yang disebut mangaluak atau mengambil hasil getah kemenyaan.

Dalam tahapan proses manige, hal yang pertama dikerjakan adalah mangarambas, yaitu membersihkan tumbuhan yang ada di radius sekitar 2 meter, dari batang pohon.

Perkakas atau alat-alat para parhaminjon; ada agat berbetuk pisau bulat kecil digunakan mengambil getah haminjon. Getah tersebut menempel pada kulit batang pohon, maka untuk memanennya, petani harus mencongkel kulit batang kemenyan dan ditampung wadah bahul-bahul.

Getah putih yang disebut sidukapi adalah getah paling berkwalitas dari pohon hamijon, harganya mahal. Dari bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut tahir, biasanya dipanen dua-tiga bulan setelah memanen sidukapi, harganya lebih murah.

Haminjon yang tumbuh secara alami disebut haminjon jalangan. Bagi masyarakat, par haminjon jalangan diyakini ditanam oleh mulajadi nabolon (penguasa langit bumi). Dan karena lebih besar dan getahnya lebih banyak, anakan dari haminjon jalangan inilah yang diambil, ditanam kembali untuk regenerasi.

Sebelum pohon kemenyan dikerjakan, semua peralatan disiapkan, dibersihkan dan diasah. Dilanjutkan acara makan sesaji dengan iringan doa. Kemudian pohon kemenyan dikerjakan satu per satu. Pada saat tidur malam di sopo dalam hutan, biasanya dapat petunjuk lewat mimpi, seperti dalam mimpi kisah legenda si boru ganjang obuk (putri berambut panjang). Jika mimpi menyiratkan bagus, maka pohon kemenyan lainnya dapat dikerjakan.

Motif Tenun Sebagai Identitas Masyarakat Adat Dobo

Posted By : adm-adat/ 160 0

Matahari siang itu panas terik saat memasuki perkampungan Dobo, Maumere, Flores – Nusa Tenggara Timur. Jalan yang sempit dan mendaki seakan menantang untuk mencapai kampung ini. Cukup melelahkan dan tubuh penuh keringat. Namun udara terasa sejuk, karena angin bertiup cukup kencang mengitari pepohonan perkampungan Dobo.

Kampung Dobo terkenal dengan artefak perahu perunggu Jong Dobo yang misterius, karena berada di tengah hutan larangan. Hampir setiap minggu ada pengunjung datang melihat artefak Dobo, yang diyakini penduduk setempat, perahu perunggu tersebut muncul setelah dilaksanakan ritual oleh penjaga artefak, Pak Sergius Moa selaku Tana Puan (pemangku adat).

Selain terkenal artefak Jong Dobo, kampung Dobo juga dikenal masyarakat Kabupaten Sikka sebagai kampung kerajinan tangan. Berkembang karena sanggar seni Jata Kapa Dobo, dan juga seniman pengrajin tenun ikatnya yang aktif mengisi acara daerah, seperti pagelaran dan pameran seni.

Kondisi perkampungn Dobo berbentuk lingkaran, di tengah-tengah perkampung terdapat beberapa artefak megalitis batu Mahe atau watu Mahe (batu berbentuk dolmen) dan Menhir. Rumah-rumah penduduknya dari tiang kayu, berdinding bambu dan di samping rumah biasanya ada bangunan kecil, beratap daun kelapa tanpa dinding, sebagai tempat perempuan Dobo menenun.

Terdengar ada suara seperti orang memukul-mukul kentongan. Suaranya nyaring namun sesekali diam dan tiba-tiba terdengar lagi. Sumber suara itu berasal dari alat tenun yang sedang digunakan oleh perempuan-perempuan Dobo yang sedang bekerja menenun.

“Setiap hari mereka menjual pinggang,” kata Kanisius Ani, sosok yang aktif berkegiatan di Aliansi Masyarakat Adat-Nusa Bunga Komunitas Iantena.

Istilah “menjual pinggang” ditujukan pada kaum perempuan yang setiap hari menahan alas kayu (pine), dimana pinggangnya diikat tali agar alat tenun tidak terlepas. Kaum perempuan menekuni pekerjaan ini untuk menambah pendapatan keluarga. Selain untuk dijual, tenun sarung dipakai untuk mengikuti kegiatan umum maupun resmi.

Sejarah Tenun Dobo
Menurut Sergius Moa, pewaris Jong Dobo ke-7, tenun ikat Dobo sudah ada sejak masa Moat Wogo Pigang, generasi pertama pewaris artefak Jong Dobo. Keahlian menenun diwariskan secara turun temurun sampai sekarang, periode Tana Puan Sergius Moa.

Gambar seorang perempuan yang menampilkan salah satu hasil tenun, dengan motif Waten Hutu.
Gambar seorang perempuan yang menampilkan salah satu hasil tenun, dengan motif Waten Hutu.

Dahulu kaum perempuan Dobo menggunakan bahan baku kapas dan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Saat menanam padi di ladang, kaum perempuan menabur biji kapas dan memetiknya setelah panen padi. Untuk bahan pewarna, seperti daun Talinbao dan kulit kayu Tener. Para perempuan Dobo mencarinya di hutan.

“Kondisi sekarang berbeda. Untuk mendapatkan benang, tidak dengan cara memintal benang lagi, karena sudah tidak ada lagi yang menanam pohon kapas. Benang dan bahan pewarna beli di toko,” ujar Wilhemina Wolo, ketua kelompok tenun ikat, Eban Watan.

Hanya pewarna hitam dan biru yang masih menggunakan tanaman nila. Untuk warna merah dan kuning mereka memakai pewarna kimia. Selain sulit untuk mendapatkan bahan baku, proses pembuatan tenun sarung juga memakan waktu cukup lama, jika menggunakan bahan pewarna lokal dan kapas.

Kelompok Eban Watan
Kelompok tenun Eban Watan berdiri tahun 2003 dengan anggota 39 orang. Untuk menyemangati kaum perempuan menenun dan mewarisi pengetahun pertenunan, anggota Eban Watan mementaskan tarian Jata Kapa Dobo, yang ditampilkan dalam berbagai acara di Kabupaten Sikka. Tarian tersebut mengisahkan proses menenun. Mulai dari menanam kapas, hingga proses menenun.

Gambar aktifitas kelompok tenun Eban Watan di kampung Dabo.
Gambar aktifitas kelompok tenun Eban Watan di kampung Dabo.

Kelompok Eban Watan memproduksi dua jenis sarung kain tenun. Sarung perempuan disebut Utan, dan sarung untuk laki-laki disebut Lipa. Perbedaan kedua sarung tersebut ada pada pewarnaan. Sarung perempuan berwarna coklat kemerahan, dengan motif tibu (emas), naga (sawa ria) atau blasin. Sedangkan sarung laki-laki berwarna hitam bergaris tanpa motif. Harga jual sarung untuk perempuan lebih mahal dari sarung laki-laki.

Motif tenun Dobo dan Kekhasannya
Motif Tibu adalah motif khas warisan leluhur Dobo, sejak kaum perempuan mengenal tenun. Motif Tibu inspirasinya dari kebiasaan kaum perempuan, khususnya istri atau anak Tana Puan yang memakai perhiasan emas pada saat mengikuti ritual adat atau menghadiri hajatan besar. Motif ini biasanya ditenun oleh keluarga Tana Puan.

Motif Naga atau biasa disebut Ular Naga Sawa Ria, juga merupakan motif khas warisan leluhur. Motif Naga terinspirasi dari dua ekor naga yang bernama Ama Lago (naga jantan) dan Ina Bela (naga betina). Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kedua ekor naga tersebut mendiami wilayah hutan larangan Dobo, menjaga Jong Dobo, hutan, kampung, serta melindungi masyarakat Adat Dobo.

Motif Blasin adalah motif kreatif kaum perempuan Dobo, yang terinspirasi kondisi perkampungan dan perumahan mereka. Hampir semua rumah penduduk berdinding dan jendela dari anyaman bambu. Mereka menamakan Blasin untuk anyaman bambu (Gadek), berbentuk ukiran berupa ular tangga, bunga, ketupat, salib dan juga hati. Menggunakan motif Blasin ingin menyampaikan pada orang lain keadaan kampung dan rumah mereka.

Motif Waten Hutu (empat hati), adalah motif kreatif yang menceritakan dinamika kehidupan manusia. Baik, buruk, susah dan senang. Menggambarkan perilaku, sikap, moral dalam hubungan antar manusia. Empat hati mengartikan kebersamaan, keharmonisan, solidaritas dan cinta kasih antar manusia.

Motif Ule Ga Bunga (ulat/burung memakan bunga). Setiap tahun Masyarakat Adat Dobo melaksanakan ritual tolak bala. Moment menarik dari ritual ini saat menggoyang pohon-pohon keramat. Pada saat pohon digoyang keluarlah berbagai jenis serangga, ular, ulat dan hampir semua jenis binatang. Motif Ule Ga Bunga yang memakan bunga, terinspirasi dari ritual tolak bala ini. Para penenun bebas menggunakan motif serangga mana saja.

5 Alasan Anda Harus Berkunjung ke Desa Adat Bayan, Lombok

Posted By : adm-adat/ 91 0

Berwisata ke pulau Lombok, mungkin kita akan membayangkan indahnya pantai Gili Trawangan atau pantai Senggigi. Dua tempat wisata yang memang telah dikenal di Nusantara ataupun di manca negara. Tak salah jika wisata di Lombok identik dengan kedua pantai tersebut.

Namun, jika anda ingin mencari suasana yang sedikit berbeda, tak ada salahnya jika anda mencoba tempat yang satu ini. Desa adat Bayan. Terletak di kaki Gunung Rinjani, komunitas adat Bayan bisa dikatakan adalah wajah asli Suku Sasak Lombok. Ada banyak alasan kenapa desa adat Bayan menjadi satu destinasi yang layak untuk dikunjungi. Berikut, kami berikan catatan atas desa adat Bayan.

1. Wisata Adat
Wisata berbasiskan kultur dapat dikatakan pada saat ini tengah naik daun. Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur atau Tana Toraja adalah dua tempat wisata adat yang telah mendunia. Walau baru membuka diri dan bukanlah desa yang terhitung luas dan besar, namun desa adat bayan mencoba menghadirkan gambaran lain dari wisata adat di Nusantara.

bayan1Berkunjung ke desa adat Bayan, kita akan disuguhi tarian-tarian adat, makanan khas, atau juga tidur di rumah adat mereka yang sederhana. Hidup dan bercengkrama dengan masyarakat adat Bayan, cukup menghibur kita dari kejenuhan kota. Menikmati keseharian dengan merasakan kehidupan dan menjadi bagian dari masyarakat adat Bayan, percayalah, akan menghilangkan penat dan bising yang biasa anda ‘nikmati’ di kota.

2. Upacara Mulud Adat
Jika anda datang pada waktu kisaran 14-15 Desember 2016, bertepatan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Masyarakat adat Bayan menyebutnya perayaan Mulud Adat. Masyarakat adat Bayan akan berbondong-bondong berdatangan ke tempat acara digelar, membawa bahan makanan, hasil sawah dan kebun, juga ternak.

Masyarakat adat Bayan akan menyerahkan hasil bumi beserta ‘Batun Dupa’ atau uang, sekaligus bernazar. Nantinya hasil bumi akan diolah dan disajikan untuk diberikan kepada ulama dan tokoh adat keesokan hari. Ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat adat Bayan atas hasil bumi yang didapat. (Open Trip Wisata Mulud Adat Bayan – Lombok https://nusantarakita.id/2016/11/03/open-trip-wisata-mulud-adat-bayan-lombok/)

3. Bentangan Sawahbayan8
Tak hanya Ubud di Bali yang memiliki bentangan sawah nan indah. Tak jauh dari kampung adat Bayan, kita dapat menikmati sawah hijau di pagi hari. Matahari pagi yang muncul dari balik gunung Rinjani, menambah kesegaran mata kita melihat hamparan sawah.

4. Mendaki Gunung Rinjani
Bagi pecinta alam pegunungan, berkunjung ke desa adat Bayan seperti setali tiga uang. Karena anda juga dapat menikmati puncak gunung Rinjani, yang jaraknya tak jauh dari kampung adat Bayan. Tak sampai 30 untuk menuju jalur lokasi pendakian atau kamping di Gunung Rinjani. Di sana sudah banyak orang-orang yang menawarkan jasa untuk menjadi penunjuk arah bagi anda yang ingin mencoba merasakan sensasi gunung Rinjani.

5. Air Terjun
Tak hanya satu air terjun yang dapat kita nikmati di Taman Nasional Gunung Rinjani. Air terjun Sendang Gile tak jauh dari kampung adat Bayan. Pemuda adat Bayan, tak akan segan untuk menjadi guide bagi anda yang ingin menikmati air terjun dari ketinggian 30 meter lebih. Hanya 15 menit perjalanan menuju Sendang Gile dari pintu utama taman nasional.

bayan9Jika anda tak puas, pemuda adat Bayan akan mengajak anda menuju ke air terjun kedua. Butuh waktu 45 menit menuju ke air terjun Tiu Kelep. Melewati jalur tangga yang cukup panjang, hutan yang sejuk, menembus sungai dangkal yang jernih dan dingin, adalah jalur trakking yang menyenangkan. Tentu sayang untuk dilewatkan ketika kita sampai ke air terjun Tiu Kelep, segeralah anda berendam dan menikmati sejuk dan segarnya air dari gunung Rinjani.

Nah, jika anda merasa kelima catatan tersebut di atas cukup menarik. Maka jangan ragu untuk segera mengemas barang dan bergegas menuju Desa Adat Bayan, Lombok.

Desa Rinding Allo – Dinding Matahari di Balik Pegunungan

Posted By : Ronny Hendra/ 244 0

Akhirnya sore hari kami tiba di Desa Rinding Allo, desa yang berupa cekungan mangkuk lembah pegunungan. Masih dibasahi gerimis, beberapa orang berkumpul di pinggir tebing menghadap kejauhan. Di dalam cekungan mangkuk itu adalah dusun-dusun, rumah penduduk dan sawah yang siap ditanami. Tapi sebentar saja pemandangan itu hilang. Kabut tebal menutupinya.

Mau gak kalian pergi ke suatu tempat yang sulit dijangkau, dengan kondisi jalan rusak, berbatu, berlubang, kalau hujan menjadi lumpur. Jalanan menanjak, membelah hutan dan pegunungan, kiri tebing kanan jurang, atau sebaliknya. Naik mobil akan repot, kecuali gardan 4. Naik motor bakal pegal bokongmu selama 3 jam di jalan. Tapi begitu sampai di tempat itu, kalian akan menemukan surga di balik gunung. Yuk, kenali dulu tempat itu, namanya Desa Rinding Allo.

Bulan lalu sebuah pesan singkat masuk ke HP saya. “Mas Joni, mau ndak ikut ke Desa Rinding Allo, bantu kami untuk sebuah pekerjaan di sana?”

Bukannya menjawab mau atau tidak, saya balik bertanya, “Di mana itu Desa Rinding Allo? Nama itu terdengar asing di telinga.”

Saya cari di mbah Google, muncul beberapa tulisan dan foto soal desa di Sulawesi Selatan ini. Negeri di atas awan. Begitu kata beberapa tulisan yang saya temukan. Ah… sudah banyak tempat wisata yang memakai nama jual ‘negeri di atas awan’, macam apa lagi ini Rinding Allo yang akan saya datangi, tanya saya dalam hati.

Dari Jakarta, bersama dua orang kawan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), kami terbang ke Makassar. Pukul 7 malam di Bandara Hasanuddin, kami menunggu seorang teman lagi, yaitu Mas Dasirun, seorang guide wisata handal asal Jogja.

Dari Makassar perjalanan dilanjutkan dengan bus malam selama 9 jam menuju Masamba, kota Kabupaten Luwu Utara. Oh ya, sebelum bus tiba jam 9 malam, kami menikmati dulu Coto Makassar di sebuah warung di Jalan Poros Makassar. Gak klop dong kalau ke kota ini tanpa menikmati Coto.

Cukup nyaman naik bus malam dari Makassar ke Masamba. Sama juga dengan bus-bus ke berbagai kota lainnya, seperti Rantepao Toraja, ke Palopo, atau sampai ke Palu. Dengan ongkos 150 ribu hingga 200 ribu, sudah dapat bus AC dengan kursi yang bisa diselonjorkan. Lengkap dengan bantal dan selimut. Hanya saja malam itu kami kebagian kursi di depan, jadinya agak deg-degan juga menyaksikan aksi sang supir yang salip kiri salip kanan di sepanjang perjalanan.

Di Masamba kami harus mengikuti sebuah acara yang menjadi bagian dari pekerjaan yang saya sebutkan di awal cerita ini. Barulah dua hari kemudian kami bergerak ke Desa Rinding Allo yang dimaksud. Tiga jam dengan sepeda motor bikin pantat pegal, kehujanan di tengah jalan, ban motor selip di lumpur, lengkap sudah menjadi bukti omongan kawan-kawan sebelumnya soal petualangan yang akan dilalui dalam perjalanan.

Pada beberapa titik kami berhenti untuk istirahat. Ada sedikit hiburan psikologis bagi mata yang memandang keindahan alam Tana Luwu ini. Hamparan sawah terasering, kabut tipis menyelimuti punggung bukit, air terjun di kejauhan, damai rasanya.

Budaya Pertanian Desa Dinding Matahari
Akhirnya sore hari kami tiba di Desa Rinding Allo, desa yang berupa cekungan mangkuk lembah pegunungan. Masih dibasahi gerimis, beberapa orang berkumpul di pinggir tebing menghadap kejauhan. Di dalam cekungan mangkuk itu adalah dusun-dusun, rumah penduduk dan sawah yang siap ditanami. Tapi sebentar saja pemandangan itu hilang. Kabut tebal menutupinya.

rinding-allo5Kami masuk ke rumah kepala desa yang posisinya di ketinggian. Terdengar ucapan Papongoran Salong, pria 60-an tahun, Kepala Desa Rinding Allo, “Lihat itu, kabutnya bergeser lagi, terbuka lagi pemandangan,” ujarnya.

Padahal baru 5 menit lalu kabut tebal datang. “Inilah Rinding Allo. Sampai ada yang menyebut ini negeri yang sering menghilang. Sebentar tertutup kabut, sebentar lagi terbuka, lengah sebentar, hilang lagi dia,” katanya sambil tertawa dan menyambut kami.

Desa Rinding Allo ada di wilayah Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Ia adalah bagian dari komunitas adat Rongkong, yang erat hubungannya dengan Kerajaan Luwu di masa lalu. Leluhur Orang Rongkong masih bersaudara sepupu dengan Sawerigading, bangsawan Luwu. Rinding Allo sendiri berarti Dinding Matahari.

“Saat matahari terbit, dia muncul dari balik Gunung Tabuan dan cahayanya menyinari punggung bukit di barat. Sebaliknya saat matahari terbenang, dia akan hilang di balik Gunung Parameang, dan cahayanya menyinari punggung bukit di timur,” kata kepala desa, Papongoran Salong.

Penduduk yang berjumlah 900-an jiwa, mayoritas adalah petani, terutama hasilnya adalah padi. Di selingan waktu mereka mengambil damar di hutan, madu hutan, atau berkebun kopi. Ada juga ternak sapi dan kerbau. Di padang-padang hijau di sela-sela sawah akan terlihat sapi-sapi coklat sedang merumput. Juga kuda.

Tapi kuda bukan untuk ternak. Di masa lalu warga menggunakan kuda untuk mengangkut barang antar desa atau wilayah saat melakukan barter barang-barang kebutuhan hidup. Orang-orang yang melakukan aktivitas ini disebut Pateke’. Sekarang sudah jarang, karena ada sepeda motor.

Masyarakat Desa Rinding Allo memiliki tradisi dan ritual yang erat dengan pertanian. Kapan mulai menanami sawah, saat padi tumbuh berbuah, dan kapan mulai panen, semua diawali dengan musyawarah dan doa ritual. Setelah panen selesai antara bulan Mei hingga Juli, akan ada pesta Mabua. Pesta syukur di mana warga akan memakan hasil panen pertama. Acara akan digelar, penuh tarian dan kesenian, musik dari gendang dan alat tiup bambu.

Ada hukum adat sejak jaman leluhur yang masih terus rinding-allo1dipegang, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Hukum adat ini membentuk suatu istilah di masyarakat Rinding Allo, dan Rongkong umumnya, yaitu Tana Masakke, Lipu Maraninding. Artinya negeri yang sejuk, damai dan tentram dilindungi hukum adat yang pamali untuk dilanggar.

Tidak boleh ada perkelahian atau tindak kekerasan, tidak boleh ada dendam, perdamaian akan diutamakan, tidak ada judi dan tidak ada pencurian. Ada sangsi tentunya untuk pelanggar hukum atau sumpah adat. Yang biasanya terjadi hukuman itu berupa ‘kutukan’, yaitu siapa yang melanggar hukum adat akan kesulitan dalam pertaniannya.

“Sampai tujuh turunan pun padinya tidak akan tumbuh, kalau orang itu melanggar sumpah adat dan belum dibebaskan dari hukumannya,” kata Kepala Desa Rinding Allo.

Tak terasa pisang goreng yang menemani obrolan santai kami sudah habis. Sesekali kepala desa menunjuk lampu-lampu dusun di kejauhan, yang kadang terlihat, kadang hilang dalam gelap.

“Negeri yang sering hilang, ya,” katanya sambil tertawa.

Obrolan kami akhiri saat udara sudah semakin dingin, dan kami teringat masih banyak yang harus dilakukan keesokan harinya.

Membangun Desa Rinding Allo
Kue klepon, kopi dan teh meluncur ke meja di balkon tempat kami berbincang semalam. Kami menikmati suasana matahari terbit dari balkon itu. Perlahan-lahan cahaya matahari membuat cekungan mangkuk lembah desa ini tampak terlihat. Pegunungan hijau terasa dekat.

Hari ini kami akan bergerak ke Dusun Salurante. Dari dusun inilah jarak terdekat jika ingin masuk ke wilayah hutan damar. Menurut penuturan warga, di area hutan damar ini sering terlihat anoa dan tarsius. Dua hewan endemik ini hanya ada di Indonesia, di Sulawesi, dan di wilayah Rongkong ini. Anoa adalah kerbau kerdil. Sementara tarsius adalah jenis primata terkecil di dunia, dengan mata belok bulat.

Dari Dusun Salurante juga merupakan jalur trekking menuju beberapa titik air terjun dan Goa Batu Banua yang terletak di pinggir sungai. Namun jalur masuk hutan itu masih perawan. Dua orang warga yang mengantar kami masuk ke hutan harus menebas ranting dan dahan untuk membuka jalur. Juga dari Dusun Salurante ada jalur menuju turbin PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro). Dari turbin inilah listrik menerangi Desa Rinding Allo.

Di dusun ini ada kelompok perempuan penenun kain Rongkong. Sudah tidak rinding-allo7banyak sebenarnya yang masih mengerjakan tenunan, namun yang tersisa masih memakai bahan dan cara tradisional untuk membuat kain itu. Khusus soal ini nanti saya ceritakan di lain waktu.

Jadi sebenarnya saya ngapain ya di Desa Rinding Allo? Nah, pekerjaan yang saya sebut di bagian awal cerita ini adalah membantu Desa Rinding Allo yang akan dikembangkan menjadi Desa Wisata. Tentu saja wisata berbasis masyarakat, yang kental dengan adat budayanya, dan kearifan lokalnya terhadap kelestarian alam.