Berita

Merawat Spirit Dakwah Kampus: Refleksi Sarasehan dan Harlah LDK Rafiqil A’la

×

Merawat Spirit Dakwah Kampus: Refleksi Sarasehan dan Harlah LDK Rafiqil A’la

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 01 18 at 08.43.45 e1768701487813

Pada Sabtu, 17 Januari 2026, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Rafiqil A’la menyelenggarakan kegiatan sarasehan bertema “Dari Masa ke Masa: Menakar Peran LDK dalam Membentuk Karakter Mahasiswa”. Kegiatan ini dipandu oleh Abdul Basith dan berlangsung dengan suasana diskusi yang hangat serta penuh refleksi. Sarasehan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan lintas generasi untuk meninjau kembali peran LDK dalam dinamika kehidupan kampus yang terus berubah.

Keanggotaan UKM LDK Rafiqil A’la, sebagaimana organisasi mahasiswa pada umumnya, bersifat fluktuatif. Jumlah anggota terkadang meningkat dan pada masa tertentu mengalami penurunan.

Scroll Kebawah Untuk Lanjut Membaca

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat dakwah di lingkungan kampus. LDK tetap berdiri sebagai ruang pembinaan spiritual mahasiswa, khususnya bagi mereka yang keimanannya juga mengalami pasang surut.

LDK Rafiqil A’la resmi berdiri pada 28 Desember 2013 dengan tujuan utama membina dan mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga nilai-nilai keislaman dalam kehidupan akademik maupun sosial. Seiring perkembangannya, LDK tidak hanya bergerak dalam ranah dakwah keagamaan, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan pengembangan kewirausahaan. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah kampus tidak bersifat sempit, melainkan menyentuh berbagai aspek kehidupan mahasiswa.

Tantangan utama LDK pada masa kini adalah bagaimana merawat organisasi agar tetap istiqamah dan inovatif. Konsistensi gerakan dakwah menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan kesadaran kolektif, baik dari pengurus maupun anggota.

Melalui program seperti studi banding dan rihlah, LDK berupaya memperluas wawasan, mempererat silaturahmi, serta menghadirkan gagasan-gagasan baru dalam pengelolaan organisasi. Ungkapan “setiap orang ada masanya, dan setiap masa memiliki momentumnya” menjadi refleksi penting bahwa keberlangsungan dakwah membutuhkan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Nama Rafiqil A’la sendiri lahir dari hasil musyawarah bersama, atas usulan Bapak Abdur Rofiq Al-Hidayah dan Gus Madarik Yahya mengusulkan nama Rafiqil A’la dan di sepakati.

Nama ini diambil dari kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah SAW, yang sarat dengan makna spiritual dan harapan agar LDK senantiasa berada dalam jalan yang diridai Allah SWT. Pada masa awal kepengurusan Kang Syifa’ur, konsep dasar (mabda’ah) kegiatan LDK banyak dilaksanakan di wilayah kota dan sempat bersinergi dengan kegiatan di Universitas Brawijaya (UB).

Dalam sesi diskusi, peserta sarasehan menyoroti sejarah LDK yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah dakwah, tetapi juga sebagai ruang pengingat dan pembentukan karakter mahasiswa. Dibahas pula strategi untuk menggerakkan anggota dan pengurus agar tetap aktif dan antusias.

Kegiatan LDK pada dasarnya terbagi menjadi dua bentuk, yaitu kegiatan gebyar yang bersifat insidental dan kegiatan rutin yang menuntut konsistensi tinggi. Tantangan terbesar justru terletak pada agenda rutin, karena membutuhkan tindak lanjut berkelanjutan serta penguatan semangat kebersamaan.

Meskipun fluktuasi semangat merupakan fitrah manusia, baik pengurus maupun anggota tetap dituntut untuk istiqamah, tidak mudah lelah, serta menjaga kekompakan internal. Prinsip yang ditekankan adalah menata dan menertibkan internal organisasi sebelum memperluas gerakan ke luar.

Terkait metode dakwah, diskusi mengemuka pada dua pendekatan utama. Menurut Kang Syifa’ur, dakwah yang efektif berangkat dari pendekatan personal, yakni memahami kebutuhan dan kondisi individu yang menjadi sasaran dakwah.

Sementara itu, Bapak Abdur Rofiq menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial dan isu-isu aktual sebagai sarana dakwah, sebagaimana konsep promosi yang digunakan dalam media massa. Kedua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah kampus perlu bersifat adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai esensialnya.

Rangkaian kegiatan sarasehan ditutup dengan acara pemotongan tumpeng yang dilaksanakan oleh Ning Azharun Nabila selaku Ketua Umum LDK Rafiqil A’la, didampingi oleh Bapak Abdur Rofiq, M.Pd. selaku pembina. Acara kemudian dilanjutkan dengan mau‘izhah hasanah yang disampaikan oleh Ustadz M. Syaiful Bahri, S.Sos., M.Si. (AKSI Indosiar 2023) dengan tema “Merawat Spirit Dakwah Kampus untuk Membangun Generasi Beriman dan Berilmu”.

Kegiatan ini dihadiri  sekitar 40 peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi, serta dihadiri oleh Ketua Umum FSLDK Malang Raya, Akhi Izzuddin, dan beberapa ketua umum demisioner yakni Kang Bayhaki dan Ning Aisyah.

Dalam tausiyahnya, Ustadz M. Syaiful Bahri menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam organisasi dan kehidupan kampus, seraya mengutip ungkapan “Syubbanul yaum rijalul ghad”—pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Beliau juga berdialog dengan beberapa audiens mengenai cita-cita mereka serta memperkenalkan komunitas dakwah MTD (Tilawah Dakwah), yang telah melahirkan prestasi nasional, salah satunya Juara 2 AKSI Indosiar 2025, Ustadzah Lutfiya Kharisma.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelantikan pengurus LDK Rafiqil A’la periode 2026–2027 oleh Ketua Umum FSLDK Malang Raya dan ditutup dengan lantunan Maulid Nabi yang dibawakan oleh UKM As-Surur.

Sarasehan ini menjadi penanda penting bahwa dakwah kampus bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk merawat nilai, membangun karakter, dan menyiapkan generasi mahasiswa yang beriman, berilmu, dan berdaya guna.