Pemilihan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Wakil Ketua DEMA, dan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Al Qolam Malang yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) pada Selasa, 13 Januari 2026, menjadi momentum penting dalam perjalanan demokrasi kampus.
Pemilihan yang dilaksanakan di halaman kampus ini bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan mahasiswa, tetapi juga menjadi cermin dinamika organisasi ekstra kampus yang hidup dan berkembang di Universitas Al Qolam Malang.
Pemilihan ini akhirnya menetapkan sahabat Muhammad Syuhadak sebagai Ketua DEMA Universitas Al Qolam Malang. Ia merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 5 dan dikenal sebagai demisioner Ketua HMPS PAI.
Sementara itu, posisi Wakil Ketua DEMA diemban oleh sahabat Andri Saputra, mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia (TBI) semester 5 yang juga merupakan demisioner Ketua HMPS TBI. Adapun jabatan Ketua Senat Mahasiswa diamanahkan kepada sahabati Lia Wildanul Jannah, mahasiswa Tadris Matematika (TMTK) semester 5.
Ketiganya memiliki latar belakang organisasi ekstra kampus PMII, yang menunjukkan kesinambungan antara pengalaman organisasi, kepemimpinan struktural, dan kepercayaan yang diberikan oleh mahasiswa.
Menariknya, dalam kontestasi kali ini, para kandidat terpilih harus “berhadapan” dengan kotak kosong sebagai satu-satunya lawan. Fenomena ini secara tidak langsung menunjukkan minimnya kompetitor yang maju sebagai alternatif kepemimpinan.
Di satu sisi, kemenangan melawan kotak kosong menandakan adanya kepercayaan mahasiswa terhadap kandidat yang ada. Namun di sisi lain, hal ini juga memunculkan pertanyaan kritis: mengapa tidak banyak kader lain yang berani atau mampu tampil sebagai penantang?
Fakta lain yang tak kalah menarik adalah latar belakang organisasi para ketua terpilih yang berasal dari organisasi ekstra kampus PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).
Dominasi kader PMII dalam kontestasi politik kampus ini memperlihatkan bahwa PMII mampu mengonsolidasikan kadernya dengan baik, baik dari segi kepemimpinan, jaringan, maupun kesiapan mental untuk bertarung di ruang demokrasi kampus. Hal ini tentu patut diapresiasi sebagai hasil dari proses kaderisasi yang berjalan konsisten.
Namun, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan besar: lalu bagaimana kabar organisasi ekstra kampus lain seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang juga eksis di Universitas Al Qolam Malang? Absennya kader dari organisasi-organisasi tersebut dalam kontestasi pemilihan DEMA dan Senat mahasiswa dapat ditafsirkan dalam berbagai sudut pandang.
Bisa jadi mereka memilih untuk tidak terlibat secara langsung, sedang melakukan konsolidasi internal, atau bahkan mengalami stagnasi kaderisasi.
Pemilihan raya mahasiswa sejatinya bukan hanya ajang perebutan kursi kekuasaan, melainkan ruang pembuktian integritas dan kualitas kader dari setiap organisasi ekstra kampus.
KPUM sebagai penyelenggara telah membuka ruang yang adil dan demokratis, sehingga hasil yang muncul adalah refleksi dari kesiapan masing-masing organisasi dalam memanfaatkan ruang tersebut. Ketika satu organisasi mampu tampil dominan, sementara yang lain absen, maka evaluasi internal menjadi sebuah keharusan.
Ajang ini juga menunjukkan bahwa politik kampus tidak bisa dilepaskan dari peran organisasi ekstra. Kampus menjadi laboratorium awal bagi mahasiswa untuk belajar tentang demokrasi, etika kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, organisasi ekstra kampus semestinya tidak hanya fokus pada wacana ideologis, tetapi juga aktif mendorong kadernya untuk berkontribusi nyata dalam struktur kemahasiswaan.
Kemenangan melawan kotak kosong seharusnya tidak membuat para ketua terpilih berpuas diri. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah pelantikan, yakni membuktikan bahwa mereka layak dipercaya oleh mahasiswa secara keseluruhan, bukan hanya oleh basis organisasi tertentu. Kepemimpinan yang inklusif, transparan, dan berpihak pada kepentingan mahasiswa menjadi ukuran utama keberhasilan mereka.
Pada akhirnya, pemilihan DEMA dan Senat Mahasiswa Universitas Al Qolam Malang tahun 2026 ini menjadi cermin kondisi organisasi ekstra kampus. PMII berhasil menunjukkan kekuatan kaderisasinya, sementara HMI dan GMNI ditantang untuk melakukan refleksi dan pembenahan.
Demokrasi kampus akan semakin sehat jika semua organisasi mampu hadir, bersaing secara fair, dan menjunjung tinggi integritas. Sebab kampus yang hidup adalah kampus yang memberi ruang bagi keberagaman gagasan dan kepemimpinan.
*) Oleh : Muhammad Rusli Penulis adalah kader PMII rayon pembaharuan Al Ghazali
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi nusantarakita.id
**) Rubrik Nusantara terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke no whatsapp : 0857-5187-9190
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Nusantarakita.id
**) Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari Nusantarakita.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp “Nusantarakita,id“, dengan cara klik kemudian ikuti.











